header image

KARAKTER ORANG BERIMAN

Posted by: | Desember 25, 2012 | No Comment |

MAKALAH

KARAKTER ORANG BERIMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama / NIM       :   Juli Rianto / S12114015

Program Studi   :   S1 Teknik Industri

 

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

 

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul KARAKTER ORANG BERIMAN.

Makalah ini berisi bagaimana kita memahami karakteristik orang beriman menurut Al Qur’an. Sebagai seorang muslim, kita wajib tahu batasan-batasan bilamana seseorang disebut sebagai beriman dan tidak menurut petunjuk Al Qur’an.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang karakteristik orang beriman sesuai dengan Al Qur’an.

 

Karanganyar, 04 Desember 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Prakata ………………………………………………………………………..….    i

Daftar Isi ………………………………………………………………………….    ii

BAB I   Pendahuluan

1.1.    Latar Belakang ………………………………………..………….    1

1.2.    Tujuan ………………………………………………………….….   1

1.3.    Manfaat ………………………………………………..………….    2

BAB II  Pembahasan

2.1.    Pengertian iman ………………………………………….………….   3

2.2.    Hubungan iman dengan Islam …….….……………………………..….    5

2.3.    Rukun iman ……………………………………..………….….….    6

2.4.    Karakter Orang Beriman …………………………………………    10

BAB III                                                                                                                      Penutup

3.1.    Simpulan ……………………………………………..……….….    18

3.2.    Saran ……………………………………………….…………….    18

Daftar Pustaka ………………………………………………………………..….    19

BAB I

  1. 1.        LATAR BELAKANG

Kekerasan dan tawuran antar kelompok masyarakat hampir menjadi pemandangan rutin di layar televisi. Beberapa kasus tawuran bahkan dimotori oleh anak muda yang masih dalam usia produktif. Pelajar dan mahasiswa yang merupakan masyarakat terdidik juga ikut meramaikan tawuran.

Perilaku kekerasan dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa, akhir-akhir ini menjadi semakin besar dan sulit untuk dikendalikan. Beberapa fakultas dalam satu kampuspun saling bermusuhan. Beberapa kasus tawuran bahkan mengarah ke tindak kriminalitas dan penganiayaan berat yang berujung pada kasus kematian.

Perilaku pelajar dan mahasiswa yang sudah sangat memprihatinkan ini tentu ada penyebabnya. Salah satu penyebab tindak kekerasan dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa karena kurangnya rasa keimanan kita terhadap Allah SWT. Sebagai seorang muslim, kita wajib tahu bilamana seseorang disebut sudah beriman atau belum. Keimanan seseorang akan muncul lewat karakteristik yang ditunjukkan orang tersebut dalam pergaulan sepanjang hari.

 

  1. 2.        TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah yang diberikan.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang karakteristik dan sifat orang beriman.
  3. Memberi dorongan kepada pembaca untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan keimanan guna meraih ridhoNya.
  4. 3.        MANFAAT

Dengan membaca dan memahami isi makalah, diharapkan dapat memperoleh manfaat yaitu:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan pembaca tentang karakter/sifat orang beriman sesuai dengan Al Qur’an.
  2. Bertambahnya wawasan ilmu keagamaan pembaca.
  3. Semakin tingginya minat untuk menerapkan sunah Allah dan rasulNya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Semakin meningkat keimanan pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.      Pengertian Iman

Secara bahasa, iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatannya. Adapun iman menurut pengertian istilah yang sesungguhnya adalah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur keraguan dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.

Kata iman di dalam Al Qur’an digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Ar Raghib al Ashfahani, seorang ahli kamus Al Qur’an mengatakan bahwa kata iman didalam Al Qur’an terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas di bibir saja padahal hati dan perbuatanya tidak beriman, terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatan saja, sedangkan hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan sehari-hari.

Iman dalam arti semata-mata ucapan dengan lidah tanpa dibarengi dengan hati dan perbuatan dapat dilihat dari arti QS. Al Baqarah, ayat 8-9, yang artinya:

 

“Dan diantara manusia itu ada orang yang mengatakan:” Kami beriman kepada Allah dan hari akhirat, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi yang sebenarnya mereka menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar.

Iman dalam arti hanya perbuatannya saja yang beriman, tetapi ucapan dan hatinya tidak beriman dapat dilihat dari QS. An-Nisa, ayat 142 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang munafik (beriman palsu) itu hendak menipu mereka. Ketika mereka berdiri mengerjakan shalat, mereka berdiri dengam malas, mereka ria (mengambil muka) kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali “.

Iman dalam arti yang ketiga adalah tashdiqun bi al-qalb wa amalun bi al-jawatih, artinya kondisi dimana pengakuan dengan lisan itu diiringi dengan pembenaran hati, dan mengerjakan apa yang diimaninya dengan perbuatan anggota badan. Contoh iman model ini dapat dilihat dalam QS. Al-Hadid, ayat19 yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang Shiddiqien”.

Berdasarkan informasi ayat tersebut dapat diketahui bahwa di dalam   Al Qur’an kata iman digunakan untuk tiga arti yaitu iman yang hanya sebatas pada ucapan, iman sebatas pada perbuatan, dan iman yang mencakup ucapan, perbuatan dan keyakinan dalam hati.

2.2. Hubungan Iman dengan Islam

Kata Islam sebagaimana diketahui berasal dari kata aslama yuslimu Islaman yang artinya berserah diri, patuh dan tunduk kepada Allah SWT. Orang yang melakukan demikian selanjutnya disebut muslim.

Menurut Al Qur’an, iman bukan semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Al Qur’an dengan tegas memegang teguh pengertian seperti ini karena menurut Al Qur’an walaupun setan dan malaikat itu sama adanya, namun beriman kepada malaikat acap kali disebut sebagai bagian dari rukun iman, sedangkan terhadap setan, orang diharuskan mengkafirinya. Hal ini sesuai dengan salah satu ayat dalam Al Qur’an yang artinya:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

Jadi manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara iman dan islam. Karena diantara keduanya terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati, sedangkan islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal.

 

2.3. Rukun Iman

Secara harfiah kata rukun berarti berdampingan, tujuan, bersanding, bertempat tinggal bersama atau kekuatan. Dalam ilmu fiqih rukun sering diartikan suatu perbuatan yang mengkonfirmasi suatu kegiatan dan perbuatan tersebut termasuk dari kegiatan tersebut sesuai dengan firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqarah, ayat 177 yang artinya:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi….”

Pada ayat tersebut disebutkan rukun iman itu ada lima, yaitu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Pada ayat tersebut tidak disebutkan rukun iman yang keenam, yaitu beriman kepada qadha dan qadar.

2.3.1. Iman kepada Allah SWT.

Tidaklah seseorang dikatakan beriman kepada Allah SWT sampai dia mengimani 4 hal yaitu:

  1. Mengimani adanya Allah SWT.
  2. Mengimani rububiah Allah SWT, bahwa tidak ada yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah SWT.
  3. Mengimani uluhiah Allah SWT, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah SWT. dan mengingkari semua sesembahan selain Allah SWT.
  4. Mengimani semua nama dan sifat Allah SWT yang telah ditetapkan, menjauhi ta’thil, tahrif, takyif, dan tamtsil.

2.3.2. Iman kepada hari kemudian/hari akhir.

Dikatakan hari akhir karena adalah hari terakhir bagi dunia ini, Tidakk ada lagi hari esok. Hari terakhir adalah hari dimana Allah SWT mewafatkan seluruh makhluk yang masih hidup ketika itu kecuali yang Allah SWT kecualikan, kemudian mereka semua dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan amal mereka sesuai dengan firman Allah SWT pada surat Al Anbiya ayat 104 yang artinya: “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya, janji dari Kami, sesungguhnya Kami pasti akan melakukannya.”

Makna hari akhir secara khusus, meskipun sebenarnya beriman kepada akhir itu mencakup 3 hal, dimana siapa saja yang mengingkari salah satunya maka hakikatnya dia tak beriman kepada hari akhir. Ketiga hal itu adalah:

  1. Mengimani semua yang terjadi di alam barzah yaitu alam di antara dunia dan akhirat berupa siksa kubur oleh 2 malaikat, nikmat kubur bagi yang baik amal ibadahnya, sedangkan siksa kubur untuk yang ingkar dari perintahNya.
  2. Mengimani tanda hari kiamat, seperti munculnya imam Mahdi, keluarnya dajjal, turunnya nabi Isa AS, terbitnya matahari dari sebelah barat dan tanda lainnya.
  3. Mengimani semua yang terjadi setelah kebangkitan, dari kebangkitan itu sendiri, berdiri di padang mahsyar, hisab, mizan (penimbangan amal), sirath, neraka, qintharah (titian kedua setelah shirath), dan terakhir surga.

2.3.3. Iman kepada para malaikat

Maksudnya kita wajib membenarkan bahwa para malaikat itu ada wujudnya dimana Allah SWT menciptakan mereka dari cahaya. Para malaikat adalah makhluk dan hamba Allah SWT yang selalu patuh dan beribadah hanya kepadaNya.

2.3.4. Iman kepada kitab Allah SWT.

Maksud mengimani kitab Allah SWT bahwa seluruh kitab Allah adalah kalamNya, dan kalamullah, bukanlah makhluk karena kalam merupakan sifat Allah SWT. Keimanan terhadap kitab Allah SWT mencakup secara rinci semua kitab yang namanya disebutkan dalam Al Qur’an seperti Taurat, Injil, Zabur, suhuf Ibrahim, & suhuf Musa. Secara khusus tentang Al Qur’an, kita wajib mengimani bahwa Al Qur’an merupakan penghapus hukum dan penyempurna dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.

2.3.5. Iman kepada Nabi dan Rosul Allah SWT.

Yaitu mengimani bahwa ada diantara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah SWT pilih sebagai perantara Allah SWT dengan para makluk. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tak memiliki sifat-sifat dan hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata.

Iman kepada nabi dan rosul adalah mengimani bahwa semua wahyu nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah SWT. Siapa saja yang mendustakan kenabian salah seorang di antara mereka maka sama saja dia telah mendustakan seluruh nabi lainnya.

2.3.6  Iman kepada qadha dan qadar

Hubungan antara qadha dan qadar selalu berhubungan erat. Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah SWT. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah SWT. Jadi hubungan antara qadha dan qadar ibarat rencana dan perbuatan. Perbuatan Allah SWT berupa qadarNya selalu sesuai dengan ketentuanNya. Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah SWT atas diri kita.

Takdir Allah SWT merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan, kita harus bersyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka harus kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah SWT maha mengetahui atas apa yang diperbuatnya. Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu untuk makhluknya.

 

2.4.           Karakter Orang Beriman

Secara tegas dalam Al Qur’an Allah SWT menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaanNya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan yang prima dibanding makhluk lainya. Allah SWT juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya masih belum selesai atau setengah jadi, sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya. Proses penyempurnaan ini sangat dimungkinkan karena pada hakekatnya manusia itu fitri, hanif dan berakal.

Sesungguhnya, fitrah yang tertanam dalam diri manusia telah menyadarkan akan kelemahannya dengan mengharapkan agar Allah SWT memberi pertolongan, bantuan, petunjuk, perlindungan, dan pengamanan.  Oleh sebab itu, Allah SWT menurunkan agama untuk mendampingi manusia supaya mereka tidak salah dalam mengembangkan fitrah (bakat bawaan)nya itu. Dalam bahasa Al-Qur’an, agama laksana cahaya yang mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan terang. Al Qur’an juga bagaikan curahan air yang memberikan kesejukan dan kehidupan. Ada banyak sekali norma-norma yang diajarkan Allah SWT dalam agama untuk dijadikan pegangan hidup agar menjadi manusia yang mutaqin.

Ibadah adalah salah satu ajaran terpenting yang disampaikan oleh para nabi dan utusan Allah SWT. Ibadah merupakan salah satu fitur dari ajaran seluruh nabi. Karena itu, oleh kalangan umat beragama ibadah menempati posisi yang amat luhur dan tidak dianggap sebagai serangkaian ritual semata yang terpisah dari kehidupan sehari-hari dan hanya terkait dengan alam akhirat. Dari ibadahnya pula orang akan dapat menilai apakah orang tersebut termasuk kedalam golongan orang yang beriman atau sebaliknya.

Sifat atau karakteristik orang yang beriman banyak dijelaskan dalam Al Qur’an diantaranya:

  1. Surat Al Mu’minun ayat 1-11:

 

 

Surat Al Mu’minun ayat 1-11 menjelaskan tentang sifat-sifat yang dimiliki orang beriman serta balasan yang akan diperolehnya. Yang dimaksud dengan beriman adalah beriman kepada rukun iman yang enam. Ayat ini, menjelaskan bahwa sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Karena walaupun mereka menurut perhitungan banyak mengerjakan amal kebajikan tetapi semua amalnya akan sia-sia saja di akhirat nanti, karena tidak berlandaskan iman kepada Allah SWT.

Adapun sifat orang yang beriman dalam surat Al Mu’minun tersebut adalah:

1.1.         Orang yang khusyuk dalam shalat.

“(Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya” (QS. Al Mu’minun: 2).

Seorang muslim itu harus tahu apa sebenarnya esensi yang terkandung dalam setiap gerakan shalat. Sering kita merasa lega setelah kita usai melaksanakan aktivitas shalat. Tapi apakah kita pernah berpikir, sudah benarkah shalat kita. Mungkin banyak dari kita yang ketika shalat masih memikirkan hal-hal lain yang bersifat keduniawian.

1.2.         Orang yang jauh dari kesia-siaan (tidak berguna).

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al Mu’minun: 3)

Orang yang hidupnya selalu dipenuhi dengan aktivitas ukhrawi akan rindu sekali dengan akhirat. Dia senantiasa melakukan hal yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun orang lain.  Jangan sampai rutinitas yang membawa keberkahan bagi kita atau justru mengandung kemudharatan bagi hidup kita seperti disampaikan dalam surat Al Kahfi ayat 104 yang artinya: “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”

Banyak dari kita mengira bahwa kegiatan yang sudah kita lakukan setiap harinya adalah baik, tapi belum tentu baik untuk Allah SWT. Oleh karena itu, sebelum kita melakukan segala aktivitas, renungkanlah hal tersebut. Agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi.

1.3.         Orang yang melaksanakan zakat.

“Dan orang-orang yang menunaikan zakat” (QS. Al Mu’minun:4)

Orang yang mampu dalam segi ekonomi kehidupannya, wajib membantu dan menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka yang kurang mampu. Salah satunya adalah zakat. Zakat wajib hukumnya bagi orang-orang yang dilebihkan hartanya oleh Allah SWT. Firman Allah SWT dalam surat Fushshilat ayat 6-7 yang artinya: “…. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat ”

Zakat itu kedudukannya adalah kedua setelah shalat. Banyak dari ayat Al Qur’an yang menyebutkan zakat setelah kata shalat. Bisa diartikan bahwa shalat dan zakat itu saling mengisi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

1.4.         Orang yang menjaga kemaluannya.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya” (QS. Al Mu’minun:5)

Banyak wanita yang beralasan, karena faktor ekonomi mereka akhirnya menjadi wanita penghibur. Dan tak sedikit pula para pria yang karena alasan bosan dengan sang istri akhirnya menemukan wanita lain. Sungguh sangat disayangkan ketika mereka beralasan seperti itu. Seharusnya mereka sadar bahwa segala sesuatunya itu datang dari Allah SWT. Maka seharusnya mereka takut pada Allah SWT ketika melakukan hal yang tidak sesuai dengan perintahNya.

1.5.         Orang yang memenuhi janjinya.

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al Mu’minun: 8)

Janganlah pernah berjanji kalau dirasa kita tidak bisa memenuhi janji itu. Ucapkanlah Insya Allah dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu itu datangnya hanya dari Allah SWT. Kalau Allah SWT mengizinkan, maka kita akan bisa memenuhi janji itu. Tapi jika Allah SWT belum berkehendak, maka kita tidak bisa berbuat apapun.

1.6.         Orang yang memelihara shalatnya.

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al Mu’minun: 9)

Shalat memang rukun Islam yang kedua, tapi kita juga harus tahu dasarnya apa yang mengaharuskan mengerjakan shalat. Shalat dilakukan bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban saja.  Harus disadari dalam hati bahwa shalat sebagai salah satu cara kita berkomunikasi dengan Allah SWT. Shalat adalah tiang agama. Tanpa shalat, seseorang belum bisa dikatakan mukmin. Shalat adalah amalan yang dihisab pertama kali di akhirat nanti. Shalat juga yang membedakan antara orang mukmin dengan orang bukan muslim. Pada ayat selanjutnya, Allah SWT juga menjelaskan “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya “(QS. Al Mu’minun: 10-11)

Balasan untuk orang beriman yang memiliki sifat-sifat di atas adalah surga firdaus. Umar, salah satu sahabat nabi Muhammad SAW meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi: “Telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat, barang siapa yang menegakkannya akan masuk surga, lalu beliau membaca sepuluh ayat ini dari awal surat Al Mu’minun.”

  1. Surat Al Anfal ayat 2-4:

 

 

 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”(QS.Al Anfal 2-4)

Dari ayat tersebut telah jelas bahwa beberapa tanda orang yang beriman kepada Allah SWT adalah:

  1. Bila disebut nama Allah gemetarlah hatinya.
  2. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya.
  3. Mereka selalu bertawakal kepada Allah SWT.
  4. Mendirikan shalat.
  5. Menafkahkan (berinfaq, shadaqoh)

Itulah tanda-tanda orang yang beriman yang disebutkan Allah SWT dalam surat Al Anfal ayat 2-4.

 

Manfaat iman bagi kehidupan manusia adalah:

  1. Iman dapat menimbulkan ketenangan jiwa.
  2. Iman akan menimbulkan rasa kasih sayang kepada sesama.
  3. Iman yang disertai dengan amal shaleh dapat menjadi kunci dibukakannya kehidupan yang lebih baik, adil dan makmur.
  4. Orang yang beriman akan diberikan kekuasaan dengan mengangkatnya sebagai kalifah di muka bumi.
  5. Orang yang beriman akan mendapat pertolongan dari Allah.
  6. Iman akan membawa terbukanya keberkahan di langit dan bumi.

Iman sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa tingkatan. Tingkatan iman antara satu orang dengan yang lainnya tentu berbeda. Untuk dapat meningkatkan iman, pembelajaran sepanjang hayat perlu dilakukan karena iman tidak mengenal usia. Hal-hal yang dapat meningkatkan iman diantaranya:

  1. Meningkatkan ilmu

Dengan meningkatkan ilmu tentang Allah SWT seperti makna dari nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang terhadap Allah SWT dan kekuasaanNya, maka semakin bertambah tinggi iman dan pengagungan serta takutnya kepada Allah SWT.

  1. Merenungkan ciptaan Allah

Dengan merenungkan ciptaan Allah SWT, keindahannya, keanekaragamanNya, dan kesempurnaanNya maka kita akan sampai pada kesimpulan siapa yang merencanakan, menciptakan dan mengatur semua ini.

3.       Senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan meninggalkan maksiat hanya karena Allah SWT.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.  Simpulan

Secara bahasa, iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatannya. Sedangkan menurut istilah pengertian iman adalah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur kerag-raguan, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.

Seseorang dikatakan sudah beriman apabila memenuhi beberapa kriteria seperti yang sudah disebutkan Allah SWT dalam surat Al Mu’minun ayat 1-11 dan surat Al Anfal ayat 2-4. Untuk mencapai tingkatan keimanan yang baik ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu meningkatkan ilmu, merenungkan ciptaan Allah SWT, dan senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan meninggalkan perbuatan maksiat. Dengan terpatrinya keimanan di dalam jiwa, diharapkan akan membuka keberkahan dilangit dan dibumi.

3.2.  Saran

Dari hasil pembahasan makalah diatas penulis menyarankan:

3.2.1.      Selalu mempelajari Al Qur’an dengan kafah agar tidak salah menafsirkan ayat yang ada di dalamnya.

3.2.2.      Setelah mempelajari dengan kafah, sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan, maka amalkan ilmu yang diperoleh dengan sungguh-sungguh dan hanya dengan mengharap keridhoan dari Allah SWT.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/keimanan_dalam_agama_islam. diunduh: 01/12/2012 15.59WIB.

http://www.wahdahbulukumba.org/2012/03/amar maruf nahi mungkar sifat orang.html. diunduh: 02/12/2012 16.25WIB.

http://alrasikh.uii.ac.id/2012/03/30/6-kriteria-orang-bertaqwa. diunduh: 03/12/2012 17.29 WIB.

http://se7en.student.umm.ac.id/hakikat-seorang-mukmin. diunduh: 04/12/2012 16.14WIB.

http://salafy-indonesia.web.id/penjelasan-rukun-iman-penjelasan-tentang-rukun-iman-123.htm. diunduh: 04/12/2012 17.27 WIB.

 

under: Uncategorized

Leave a response






Your response:

Categories