header image

Archive for Uncategorized

PERENCANAAN DAN PENGAWASAN OPERASI

Posted by: | Desember 25, 2012 | No Comment |

MAKALAH

PERENCANAAN DAN PENGAWASAN OPERASI

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama / NIM        :   1. Juli Rianto /

                                 2. Puryanto /

Program Studi     :   S1 Teknik Industri

 

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul PERENCANAAN DAN PENGAWASAN OPERASI.

Makalah ini berisi bagaimana kita merencanakan suatu perusahaan agar dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Selain merencanakan, makalah ini juga mengupas bagaimana tindakan pengawasan terhadap operasi suatu perusahaan dijalankan untuk bisa memastikan bahwa kegiatan operasi perusahaan dapat berjalan sesuai dengan kaidah yang dianut.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang perencanaan dan pengawasan operasi dalam suatu perusahaan.

 

Karanganyar, 09 Oktober 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Prakata ……………………………………………………………………………..….    i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………….    ii

BAB I    Pendahuluan

1.1.    Latar Belakang ……………………………………………………….    1

1.2.    Tujuan …………………………………………………………….….    1

1.3.    Manfaat ……………………………………………………………….    2

BAB II   Perencanaan dan Pengawasan Operasi Perusahaan

2.1.    Pengertian …………………………………………………………….    3

2.2.    Jenis-jenis Kegiatan Perencanaan dan Pengawasan …….….……….    4

2.3.    Proses Perencanaan dan Pengawasan Operasional ……….….….….   6

2.3.1. Proses Perencanaan ………………………………….…….….    6

2.3.2. Proses Pengawasan …………………………………………….    10

BAB III  Penutup

3.1.    Simpulan ………………………………………………………….….    13

3.2.    Saran ………………………………………………………………….    14

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………..….    16

BAB I

  1. 1.        LATAR BELAKANG

Suatu perusahaan yang baik tentunya telah direncanakan dengan baik pula. Perencanaan dalam pengertian ini menitik beratkan kepada usaha untuk menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya. Akan menjadi mustahil apabila suatu perusahaan yang bagus hanya direncanakan dengan ala kadarnya saja.

Selain kegiatan perencanaan yang baik pada tahap awal, suatu perusahaan juga membutuhkan suatu pengawasan (pengendalian) dalam segala bentuk operasional perusahaan. Kegiatan pengawasan (pengendalian) ini mempunyai tujuan agar dapat memastikan suatu perusahaan tidak melenceng dari tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya dan untuk dapat mencapai hasil yang memuaskan.

Kegiatan pengawasan/pengendalian ini adalah mencakup semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan oleh suatu perusahaan.

 

  1. 2.        TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan atas tugas yang dibebankan.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang bagaiamana merencanakan dan melakukan pengawasan produksi suatu perusahaan.
  3. Memupuk jiwa wirausaha kepada pembaca.
  4. Memberikan referensi kepada pembaca tentang perencanaan dan pengawasan operasional perusahaan.
  5. 3.        MANFAAT

Dengan membaca dan memahami isi makalah, diharapkan dapat memperoleh manfaat yaitu:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan tentang cara merencanakan dan melakukan pengawasan terhadap suatu perusahaan yang baik.
  2. Bertambahnya wawasan tentang tata kelola perusahaan yang baik.
  3. Semakin tingginya minat untuk mampraktekkan ilmu yang didapat dengan berwira usaha.
  4. Semakin menurunnya jumlah pengangguran usia kerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PERENCANAAN DAN PENGAWASAN OPERASI PERUSAHAAN

2.1.  Pengertian

Perencanaan adalah suatu kegiatan menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam penyelesaian. Perencanaan dalam pengertian ini menitik beratkan kepada usaha untuk menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya. Sedangkan Kaufman mengatakan bahwa perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan secara sah dan berdaya guna. Dari pendapat Kaufman tersebut, dapat dipahami bahwa perencanaan merupakan sesuatu yang menjadi keperluan dalam sebuah sistem untuk mendukung tercapainya tujuan. Tidak itu saja selain mendukung tercapainya tujuan suatu sistem maupun lembaga perencanaan yang dipersiapkan hendaknya bermanfaat secara aplikasi, dan lebih penting adalah dikerjakan dan disusun berdasarkan kepatutan serta tidak melanggar norma yang berlaku.

Menurut Kaufman dalam perencanaan mengandung beberapa elemen sebagai berikut:

  1. Mengindentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan.
  2. Menentukan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat prioritas.
  3. Memperinci spesifikasi hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang dipioritaskan.
  4. Mengidentifikasi persyaratan untuk mencapai tiap-tiap alternatif.
  5. Mengidentifikasi strategi alternatif yang memungkinkan, termasuk di dalamnya peralatan untuk melengkapi tiap persyaratan untuk mencapai kebutuhan, untung rugi berbagai latar dan strategi yang digunakan.

Kegiatan pengawasan operasi perusahaan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memastikan suatu perusahaan tidak melenceng dari tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya dan untuk dapat mencapai hasil yang memuaskan. Sedangkan pengertian kegiatan pengawasan (pengendalian) adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan.

Suatu kegiatan pengawasan operasional perusahaan selalu dibarengi dengan kegiatan pengendalian. Hal ini mempunyai tujuan bahwa tujuan dari pengawasan itu sendiri adalah untuk mengendalikan operasi perusahaan agar sesuai dengan tujuan awal dari perusahaan itu didirikan dan untuk dapat memperoleh hasil yang memuaskan.

 

2.2.  Jenis-jenis kegiatan perencanaan dan pengawasan operasi perusahaan

Suatu perusahaan yang baik, paling tidak terdapat enam jenis kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat merencanakan dan melakukan pengawasan dalam suatu kegiatan operasional yaitu:

  1. Kegiatan Peramalan

Kegiatan peramalan adalah kegiatan untuk melakukan perkiraan-perkiraan atau estimasi tingkat permintaan suatu produk untuk periode yang akan datang berdasarkan data penjualan masa lampau yang dianalisa dengan cara tertentu.

  1. Perencanaan Operasi/Produksi

Kegiatan perencanaan operasi/produksi mempunyai tujuan untuk mengetahui jumlah barang yang harus diproduksi dengan berdasarkan hasil peramalan (perhitungan) dan persediaan yang ada. Kegiatan perencanaan operasi/produksi juga sebagai acuan untuk menentukan/merancang jadwal produksi.

  1. Pengawasan dan Perencanaan Persediaan

Yang dimaksud dengan persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resources) yang menunggu proses lebih lanjut berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada sistem distribusi, atau kegiatan konsumsi pada sistem rumah tangga.

Kegiatan pengawasan dan perencanaan persediaan bertujuan untuk mempermudah dan memperlancar jalannya operasi perusahaan yang dilakukan secara berturut-turut pada waktu memproduksi barang untuk dipasarkan kepada konsumen.

  1. 4.         Material Requiremen Plaining

Kegiatan material requiremen plaining mempunyai tujuan untuk menterjemahkan metode perencanaan material menjadi kebutuhan logis, aturan keputusan dan teknik pencatatan terkomputerisasi yang dirancang untuk menterjemahkan jadwal induk produksi (master production schedule) menjadi kebutuhan bersih (net requirement) material untuk semua komponen produk.

  1. Line Balancing (Keseimbangan Lintasan)

Adalah suatu upaya untuk meminimalkan ketidak seimbangan diantara mesin-mesin produksi untuk mendapatkan waktu yang sama di setiap stasiun kerja sesuai dengan kecepatan produksi yang diinginkan.

  1. Konsep Just in Time

Adalah memproduksi output yang dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan pada setiap proses dan sistem produksi dengan cara yang paling ekonomis dan efisien.

 

2.3.  Proses Perencanaan dan Pengawasan Operasional

2.3.1. Proses Perencanaan

Sebelum para manajer dapat mengorganisasi, memimpin, atau mengendalikan, terlebih dahulu mereka harus membuat rencana yang memberikan arah pada setiap kegiatan operasi perusahaan. Pada tahap perencanaan para manajer menentukan apa yang akan dikerjakan, kapan akan mengerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan siapa yang akan mengerjakannya.

Kebutuhan akan perencanaan ada pada semua tingkatan manajemen perusahaan dan semakin meningkat pada tingkatan manajemen yang lebih tinggi, dimana perencanaan itu mempunyai kemungkinan dampak yang paling besar pada keberhasilan operasi perusahaan. Pada tingkatan top manajer pada umumnya mencurahkan hampir semua waktu perencanannya jauh ke masa depan dan pada strategi-strategi dari seluruh operasi perusahaan. Manajer pada tingkatan yang lebih rendah merencanakan terutama untuk sub unit mereka sendiri dan untuk jangka waktu yang lebih pendek.

Terdapat pula beberapa variasi dalam tanggung jawab perencanaan yang tergantung pada ukuran dan tujuan operasi perusahaan dan pada fungsi atau kegiatan khusus manajer. Perusahaan yang besar dan berskala internasional lebih menaruh perhatian pada perencanaan jangka panjang daripada perusahaan lokal. Akan tetapi pada umumnya perusahaan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara perencanaan jangka panjang maupun perencanaan jangka pendek. Karena itu penting bagi para manajer untuk mengerti peranan perencanaan secara keseluruhan.

Menurut T. Hani Handoko (1999) kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap sebagai berikut :

1.      Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.

2.      Merumuskan keadaan saat ini.

3.      Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan.

4.      Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Salah satu maksud dibuat perencanaan adalah melihat program-program yang digunakan untuk meningkatkan kemungkinan pencapain tujuan di waktu yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan pengambilan keputusan yang lebih baik. Oleh karena itu, perencanaan operasi perusahaan harus aktif, dinamis, berkesinambungan dan kreatif, sehingga manajemen tidak hanya bereaksi terhadap lingkungannya, tapi lebih menjadi peserta aktif dalam dunia usaha.

Ada dua alasan dasar perlunya perencanaan :

1.      Untuk mencapai “protective benefits” yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan.

2.      Untuk mencapai “positive benefits” dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi.

Beberapa manfaat perencanaan adalah:

1.      Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungan.

2.      Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas.

3.      Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat.

4.      Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi.

5.      Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami.

6.      Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti.

7.      Menghemat waktu, usaha, dan dana.

Beberapa kelemahan perencanaan adalah:

1.      Pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin lebih banyak pada kondisi yang sebenarnya.

2.      Perencanaan cenderung menunda kegiatan.

3.      Perencanaan dapat membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi.

4.      Kadang-kadang hasil yang paling baik didapatkan oleh penanganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi.

5.      Ada beberapa rencana yang dilaksanakan dengan tidak konsisten.

Perencanaan operasional adalah rencana yang menitik beratkan pada perencanaan taktis untuk mencapai tujuan operasional. Dikembangkan oleh manajer tingkat menegah dan tingkat bawah, rencana operasional memiliki fokus jangka pendek dan lingkup yang relatif lebih sempit. Masing-masing rencana operasional berkenaan dengan suatu rangkaian kecil aktivitas.

Pada dasarnya kita mengenal 3 kerangka waktu perencanaan:

1.      Rencana Jangka Panjang

Suatu rencana jangka panjang (long-range plan) meliputi banyak tahun, bahkan beberapa dekade.

2.     Rencana jangka Menengah

Suatu rencana yang agak bersifat sementara dan lebih mudah berubah dibanding rencana jangka panjang. Rencana jangka menengah biasanya meliputi periode satu hingga lima tahun dan terutama penting bagi manajer menengah dan manajer lini.

3.      Rencana jangka Pendek

Suatu rencana jangka pendek pada umumnya memiliki kerangka waktu satu tahun atau kurang. Rencana jangka pendek (short-range plan) sangat mempengaruhi aktivitas sehari-hari manajer. Terdapat dua jenis rencana jangka pendek. Rencana tindakan (action plan) merealisasikan semua jenis rencana. Ketika sebuah perusahaan “X” siap untuk mengganti teknologinya, manajernya memusatkan perhatian mereka pada penggantian peralatan yang ada dengan peralatan baru secepat mungkin dan seefisien mungkin untuk meminimalkan hilangnya waktu produksi. Dalam banyak kasus, hal ini dapat dilakukan dalam beberapa bulan, dan produksi hanya terhenti selama beberapa minggu. Dengan demikian, suatu rencana tindakan mengkoordinasikan berbagai perubahan aktual pada suatu perusahaan tertentu. Sebaliknya rencana reaksi (reaction plan) adalah rencana yang dirancang untuk membuat perusahaan dapat bereaksi terhadap situasi yang tak terduga. Di salah satu perusahaan “X”, peralatan baru tiba lebih awal dari yang diharapkan dan manajer pabrik harus menutup produksi lebih cepat dari yang mereka perkirakan. Oleh karena itu, manajer tersebut harus bereaksi terhadap kejadian yang berada di luar kendali mereka dalam cara yang masih memungkinkan tercapainya tujuan.

Hambatan yang mungkin timbul dalam penetapan tujuan dan perencanan suatu perusahaan yaitu:

  1. Tujuan yang tidak tepat.
  2. Sistem penghargaan yang tidak tepat.
  3. Lingkungan yang dinamis dan kompleks.
  4. Keengganan untuk menetapkan tujuan.
  5. Penolakan terhadap perubahan.
  6. Keterbatasan.

Untuk mengatasi hambatan diatas, kita dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Pahami maksud dan tujuan dari perencanaan awal.
  2. Lakukan sistem penghargaan dengan tepat sesuai dengan prestasi kerja yang telah dilakukan.
  3. Selalu komunikasikan setiap detil tujuan agar tercapai suatu pemahaman.
  4. Revisi dan konsistensikan tujuan untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
  5. Minimalisir keterbatasan dengan mengoptimalkan segala jenis potensi yang ada.

 

2.3.2. Proses Pengawasan

Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Sasaran pengawasan itu adalah untuk menunjukan kelemahan dan kesalahan dengan maksud untuk memperbaiki dan mencegah agar tidak terulang kembali. Dalam pengawasan pendekatan tidak hanya dilakukan secara teknik tetapi digabungkan dengan pendekatan kepribadian dan pendekatan perilaku agar terjadi proses pengawasan yang mendapatkan hasil sesuai dengan harapan setiap perusahaan. Ada beberapa hak yang bersifat fundamental supaya pengawasan sesuai dengan rencana yaitu:

  1. Berorientasi kepada efisiensi.
  2. Berorientasi kepada efektivitas.
  3. Berorientasi kepada produktivitas.
  4. Pengawasan dilakukan pada saat kegiatan berlangsung.
  5. Pengawasan dilakukan karena sikap manusia yang tidak terlepas dari kesalahan.
  6. Pengawasan dilakukan sesuai dengan prosedur dasar pengawasan yang harus diketahui dan dilaksanakan.

Dalam setiap kegiatan operasi perusahaan biasanya terdapat 4 jenis pengawasan yaitu:

  1. Pengawasan dari dalam

Adalah pengawasan yang dilakuakan oleh aparat atau unit dari organisasi itu sendiri yang bertindak atas nama pimpinan perusahaan.

  1. Pengawasan dari luar

Adalah pengawasan yang dilakukan oleh organisasi yang dibentuk dari luar perusahaan dan bertindak untuk perusahaan itu sendiri atau pimpinan dan biasanya atas permintaan perusahaan.

  1. Pengawasan prefentif

Adalah pengawasan yang dilakukan sebelum kegiatan dilaksanakan atau dikerjakan yang bertujuan untuk mencegah kesalahan yang terjadi.

  1. Pengawasan represif

Adalah Pengawasan yang dilakuakan pada saat kegiatan itu sudah berlangsung yang bertujuan untuk menjamin kelangsungan pekerjaan.

Ada 4 sistem dalam pelaksanaan sistem represif yaitu:

  1. Sistem Komperatif

1.1.  Mempelajari laporan kemajuan dari pelaksanan pekerjaan dan dibandingkan jadwal rencana pelaksanaan.

1.2.  Membandingkan laporan-laporan hasil pelaksanan pekerjaan dengan rencana yang telah diputuskan sebelumnya.

1.3.  Adakah analisa terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi.

1.4.  Buatlah penilaian.

1.5.  Buatlah keputusan terhadap usulan perbaikannya maupun penyermpurnaan.

 

  1. Sistem Previkatif

2.1.  Tentukan keputusan yang berhubungan dengan prosedur pemeriksaan.

2.2.  Buatlah pemerikasaan secara periodik.

2.3.  Pelajari laporan perkembangan dari hasil pelaksanaan.

2.4.  Mengadakan penilaian.

2.5.  Putuskan tindakan untuk membuat suatu keputusan.

 

  1. Sistem Insektif adalah mengecek kebenaran dari suatu laporan yang dibuat dari pihak petugas pelaksanaan.

 

  1. Sistem Investigatif adalah sistem yang dilakuakan dengan menitik beratkan terhadap penyelidikan atau penelitian yang lebih dalam terhadap masalah yang bersifat negatif dan mengambil keputusan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.  Simpulan

Perencanaan adalah suatu kegiatan menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam penyelesaian. Sedangkan pengawasan operasional adalah suatu kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan operasional perusahaan tidak melenceng dari tujuan awal perusahaan didirikan dan untuk mencegah kesalahan yang sama terulang kembali.

Perencanaan dan pengawasan dalam suatu operasional perusahaan sangat dibutuhkan agar perusahaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan awal perusahaan didirikan. Kegiatan perencanaan pada dasarnya melalui empat tahap sebagai berikut :

1.      Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan.

2.      Merumuskan keadaan saat ini.

3.      Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan.

4.      Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan.

Ada dua alasan dasar perlunya perencanaan yaitu:

1.      Untuk mencapai “protective benefits” yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan.

2.      Untuk mencapai “positive benefits” dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi.

Manfaat dari perencanaan sangat luas meliputi membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungan, memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas, membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian organisasi, membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami, meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti serta menghemat waktu, usaha, dan dana.

Beberapa hak yang bersifat fundamental yang harus dipenuhi supaya pengawasan sesuai dengan rencana yaitu:

  1. Berorientasi kepada efisiensi.
  2. Berorientasi kepada efektivitas.
  3. Berorientasi kepada produktivitas.
  4. Pengawasan dilakukan pada saat kegiatan berlangsung.
  5. Pengawasan dilakukan karena sikap manusia yang tidak terlepas dari kesalahan.
  6. Pengawasan dilakukan sesuai dengan prosedur dasar pengawasan yang harus diketahui dan dilaksanakan.

Kegiatan pengawasan operasional perusahaan pada umumnya terdiri dari 4 jenis yaitu pengawasan dari dalam perusahaan, dari luar perusahaan, pengawasan prefentif dan pengawasan represif. Kegiatan pengawasan prefentif lebih menitik beratkan pada cara pencegahan agar perusahaan tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan. Sedangkan pengawasan represif lebih menitik beratkan pada pengawasan di lapangan untuk menjamin keberlangsungan operasi suatu perusahaan.

 

3.2.  Saran

Dari hasil pembahasan makalah diatas penulis menyarankan:

  1. Mengingat perkembangan dan persaingan usaha yang semakin ketat, studi lanjut mengenai perencanaan dan pengawasan operasi yang lebih kompleks sangat diperlukan.
  2. Ketika suatu teori diaplikasikan dalam suatu tindakan nyata, sangat diharapkan melakukan beberapa penyesuaian yang dapat mendorong penerapan teori tersebut lebih baik.
  3. Suatu permasalahan tak terduga sering muncul pada waktu kegiatan operasional dijalankan, hal ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam pada perencanaan awal suatu perusahaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http:www.terindikasi.com.Cara Membuat Makalah yang Baik dan Benar.html. diunduh: 04/10/2012 15.59WIB.

http:www.novia’s blogspot.com.Pengawasan dalam Organisasi.html. diunduh: 11/10/2012 17.25WIB.

http:www.IphovKumalaSriwana.blogspot.com.html. diunduh:11/10/2012 17.29 WIB.

http:www.repository.usu.ac.id.Perencanaan dan Pengendalian Operasi. diunduh: 12/10/2012 16.14WIB.

http:www.digilib.usu.ac.id.Perencanaan Operasi Perusahaan. Diunduh: 13/10/2012 17.15WIB.

under: Uncategorized

MAKALAH

PRODUCTION PLANNING AND INVENTORY CONTROL (PPIC)

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama                             :   Juli Rianto

NIM                               :   S12114015

Program Studi              :   S1 Teknik Industri

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul PRODUCTION PLANNING AND INVENTORY CONTROL (PPIC).

Makalah ini berisi seluk beluk sistem produksi (manufaktur), perencanaan (planning), dan kontrol terhadap sistem ketersediaan bahan baku (inventory control). Jika kita ambil pengertian Production Planning bukan hanya merencanakan produksi saja, dimana pengertiannya bisa menjadi lebih luas lagi. Begitu juga dengan Iventory Control, pengertiannya bukan hanya sekedar mengkontrol bahan baku saja tetapi bagaimana deptartemen PPIC dapat me-minimalkan persediaan bahan baku yang berada di departemen Warehouse sehingga penempatan di gudang menjadi lebih efektif dan dapat menekan biaya penyimpanan dan pembelian bahan baku.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang Production Planning and Inventory Control..

 

Karanganyar, 01 Desember 2012

Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Prakata ………………………………………………………………………..     i

Daftar Isi ………………………………………………………………………    ii

BAB I   Pendahuluan

1.1.    Latar Belakang …………………………………..……………    1

1.2.    Tujuan ……………………………………………..………….    2

1.3.    Manfaat ……………………………………………..…………    2

BAB II  Isi

2.1.    Pengertian PPIC ……………………………………………….    3

2.2.    Konsep Dasar Pekerjaan PPIC …………………………………    4

BAB III                                                                                                                  Penutup

3.1.    Simpulan ………………………………………………..…….    11

3.2.    Saran ……………………………………………………..……   12

Daftar Pustaka ………………………………………………………….……..    13

BAB I

  1. 1.        LATAR BELAKANG

Fungsi Planning dalam perusahaan (manufacture) dijalankan oleh bagian PPIC ( Production Planning and Inventory Control ). Disamping memiliki fungsi production planning, PPIC juga memiliki peranan dalam manajemen Inventory.

Inventory atau barang persediaan merupakan aset perusahaan yang berupa persediaan bahan baku / raw material, barang-barang sedang dalam proses produksi, dan barang-barang yang dimiliki untuk dijual. Karena  inventory disimpan di gudang, maka manajemen inventory  dan gudang sangat berkaitan. Pergudangan sendiri adalah kesatuan komponen didalam suplay chain  product. Gudang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang sampai digunakan dalam proses produksi. Fungsi  penyimpanan ini sering disebut ruang persediaan atau gudang bahan baku. Perusahaan besar atau kecil, untuk pengadaan dan penyimpanan barang ini diperlukan biaya besar. Biaya penyimpanan ini setiap tahun umumnya mencapai sekitar 20 – 40% dari harga barang (Indrajit, R,E., Djokopranoto,R., Manajemen Persediaan, 2003, Gramedia, hal.3). Untuk itu diperlukan strategi atau manajemen inventory yang baik agar biaya persediaan optimum.

Dalam struktur organisasi  ada beberapa variasi untuk  mempertegas fungsi planing dan gudang (material ware house dan final product ware house), untuk  kondisi seperti ini, PPIC bertanggung jawab pada  monitoring persediaan (Safety Stock, mengeluarkan Bill of Material, akurasi data inventory, efektivitas sistem informasi).

Sedangkan aktivitas pergudangan, seperti penerimaan dan penyimpanan, serta pengiriman raw material ke bagian processing, penerimaan dan penyimpanan serta pengiriman final produk ke kustomer, mengoperasikan sistem informasi, umumnya dibawah kendali Head Ware House setingkat supervisor atau manager, disesuaikan dengan lingkup tanggung jawabnya.

 

  1. 2.        TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah yang diberikan.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang sistem pengorganisasian perusahaan (manufaktur) yang baik.
  3. Memupuk jiwa wirausaha kepada pembaca.
  4. Memberi referensi kepada pembaca tentang fungsi dan tugas pokok dari departemen PPIC.

 

  1. 3.        MANFAAT

Dengan membaca dan memahami isi makalah, diharapkan dapat memperoleh manfaat yaitu:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan tentang sistem perencanaan produksi dan control bahan baku yang baik dalam suatu perusahaan.
  2. Bertambahnya wawasan tentang tata kelola perusahaan yang baik.
  3. Semakin tingginya minat untuk mampraktekkan ilmu yang didapat dengan berwira usaha.
  4. Semakin menurunnya jumlah pengangguran usia kerja.

 

BAB II

 

2.1. Pengertian PPIC

PPIC (Production Planning and Iventory Control) adalah kegiatan merencanakan produksi dan mengontrol kebutuhan bahan baku agar proses produksi (manufaktur) dapat berjalan dengan baik (efektif dan efisien). Jika kita ambil pengertian production planning bukan hanya merencanakan produksi saja, dimana pengertiannya bisa menjadi lebih luas lagi. Jika kita ingin merencanakan suatu produksi maka kita harus mengetahui kebutuhan bahan yang akan di produksi yang mana departemen PPIC dapat mengetahuinya berdasarkan informasi dari departemen R&D berupa formulasi produk dan dari sini departemen PPIC dapat menghitung kebutuhan bahan baku yang harus disediakan sesuai dengan berapa banyak yang akan diproduksi. Sedangkan Iventory Control pengertiannya bukan hanya sekedar mengontrol bahan baku saja tetapi bagaimana departemen PPIC dapat meminimalkan persediaan bahan baku yang berada di departemen Warehouse sehingga penempatan di gudang menjadi lebih efektif dan dapat menekan biaya penyimpanan dan pembelian bahan baku.

Yang perlu diketahui bahwa berdasarkan survey yang pernah dilakukan oleh suatu lembaga survey kepada suatu pelanggan yang menyatakan alasan mengapa pelanggan meninggalkan perusahaan, antara lain disebutkan karena meninggal (1%), pindah (3%), membentuk kelompok lain (5%), alasan pesaing lebih baik (9%), produk mengecewakan (14%), dan sikap tidak berbeda dari perusahaan dalam memberikan pelayanan dari waktu ke waktu (68%). Alasan terakhir ini menunjukan bahwa perlu adanya perbaikan terus-menerus (continuous improvement) dalam proses industri untuk mempertahankan loyalitas pelanggan (customer loyalty) kepada perusahaan.

Berdasarkan survey diatas maka departemen PPIC mempunyai peranan penting di dalam mewujukan perbaikan terus-menerus (continuous improvement) sehingga dapat mempertahankan loyalitas pelanggan (customer loyalty). Departemen PPIC merupakan urat nadi perusahaan tetapi kadang PPIC dianggap sepele bagi sebagian manager/perusahaan. Mungkin pemikiran sepeti itu menganggap bahwa tanpa adanya PPIC perusahaan tetap dapat berjalan tapi hasilnya tidak akan dapat efektif dan efisien.

Gambar 1. Struktur Organisasi Departemen PPIC

2.2. Konsep Dasar Pekerjaan PPIC

Dari pengertian PPIC maka pekerjaan PPIC dapat berjalan lebih efektif dan efisien apabila:
1. Mengetahui Kapasitas Produksi.
2. Mengetahui Forecast Penjualan.
3. Mengetahui Customer Order.
4. Mengetahui Formula Produk.
5. Mengetahui Proses Produksi.
6. Mengetahui Kualitas Produk.
7. Mengetahui Kapasitas Gudang.
8. Mengetahui Leadtime Pembelian.
9. Mengetahui Quantity Minimum Order.
10. Mengetahui Bahan Baku Alternatif.
11. Mengetahui Kapasitas Ekspedisi.
12. Mengetahui Leadtime Pengiriman.
13. Mengetahui Safty Stock Raw Material & Finish Good.

 

Gambar 2. Konsep Dasar Traditional Intermediaries

 

Gambar 3. Konsep dasar Hub. Based Chain

  1. Kapasitas Produksi.

Kapasitas Produksi adalah seberapa banyak suatu mesin produksi dalam membuat suatu produk selama satu hari kerja. Dengan kapasitas produksi ini maka departemen PPIC dapat mengetahui berapa lama proses produksi untuk dapat menghasilkan barang dengan kualitas yang baik dalam jumlah tertentu. Kapasitas produksi di dapatkan dari departemen produksi.

 

  1. Forecast Penjualan.

Forecast Penjualan adalah perkiraan penjualan yang akan datang baik untuk satu bulan atau tiga bulan kedepan. Dengan forecast ini maka departemen PPIC dapat memenuhi permintaan customer dan membuat safety stock finish goods. Forecast Penjualan ini didapatkan dari departemen marketing.

  1. 3.        Customer Order.

Customer Order adalah permintaan pelanggan terhadap produk finish goods yang ditawarkan oleh marketing baik itu produk regular maupun produk pesanan khusus. Dari customer, order yang masuk ini maka PPIC dapat menjadwalkan rencana produksi sampai produk itu terkirim sesuai dengan leadtime yang sudah ditentukan.

  1. Formula Produk

Formula produk dikeluarkan berdasarkan hasil uji coba dari departemen R&D terhadap suatu produk sampai produk itu dapat dijual ke customer. Dalam formula itu terdapat rincian bahan baku yang akan digunakan untuk suatu produk dengan uraian persentase. Berdasarkan formula itu maka PPIC dapat memperhitungkan berapa banyak bahan yang dibutuhkan untuk permintaan customer.

  1. Proses Produksi

Proses produksi didalam produksi suatu produk berbeda-beda perlakuannya, oleh karena itu maka PPIC harus dapat mengetahui setiap produk di dalam proses produksinya sehingga bisa memperkirakan berapa lama suatu produk itu dapat dibuat sampai selesai dan sesuai dengan kapasitasnya juga. Proses produksi ini dapat diketahui dengan memahami produk tersebut pada saat produksi apa saja kendala yang dapat terjadi untuk suatu produk tersebut.

  1. Kualitas Produk

Kualitas produk dapat dinyatakan bahwa produk itu berkualitas sesuai dengan standar yang sudah ditentukan berdasarkan departemen QC. Kualitas ini menjadi penting bagi PPIC karena didalam suatu produksi ada beberapa tahapan tes QC untuk menyatakan produk tersebut lolos QC atau tidak lolos QC. Dengan mengetahui masalah kualitas produk, maka PPIC dapat mengkomunikasikan dengan marketing mengenai kualitas yang diinginkan karena tidak semua kustomer sesuai dengan standar yang kita keluarkan dalam artian bahwa kualitas produk itu masih dapat dibicarakan dengan kustomer dan yang dapat membicarakan masalah kualitas produk yang kita dapatkan pada saat produksi adalah marketing sendiri yang memegang peranan penting ini.

  1. Kapasitas Gudang

Kapasitas Gudang ditentukan berdasakan dari departemen gudang yang mana data ini dapat diukur sesuai dengan barang yang ingin kita buat stoknya. Dengan data ini Gudang dapat memperkirakan berapa banyak barang tersebut dapat disimpan di gudang. Maka PPIC harus dapat mengatur masuknya barang agar tidak ada penumpukan barang di dalam gudang yang dapat menghabiskan kapasitas gudang. Sehingga dengan memperhatikan hal seperti ini teciptalah efisiensi dan efektifitas gudang.

  1. Leadtime Pembelian

Leadtime pembelian didapat dari departemen purchasing yang mana departemen purchasing mendapatkanya sesuai dengan negosiasi dengan para supplier dan perhitungan dokumen yang harus diproses secara internal departemennya. Maka dengan adanya Leadtime Pembelian ini PPIC dapat memperhitungan pembelian bahan baku agar dapat lebih efektif dan efesien selain itu akan didapatkan saefty stock barang yang diinginkan.

  1. 9.        Quantity Minimum Order

Quantity Minimum Order didapatkan dari departemen purchasing yang mana departemen purchasing mendapatkannya sesuai dengan negosiasi dengan para suplier. Departemen PPIC dapat mengorder sesuai dengan Quantity Minimum Order yang sudah ditentukan kecuali ada hal khusus yang mengharuskan memesan barang diluar Quantity Minimum Order maka departemen PPIC meminta kepada departemen purchasing unuk menegosiasikan dengan suplier.

  1. Bahan Baku Alternatif

Bahan Baku Alternatif berdasarkan informasi dari departemen R&D, yang mana bahan ini bagi industri sangatkan dibutuhkan karena jika tidak ada bahan alternatif bagi suatu produk dan pada saat produksi bahan baku utama tidak tersedia oleh suplier maka produksi akan menggunkan bahan alternatif tersebut. Karena departemen PPIC yang mengontrol inventory part dan planning production sehingga departemen PPIC dapat memperhitungkan kapan harus menggunakan bahan alternatif tersebut, selain itu juga dengan adanya bahan alternatif ini maka dapat menurunkan biaya pembelian bahan karena departemen purchasing akan membeli barang yang harganya paling murah diantara bahan baku alternatif yang ada.

  1. Kapasitas Ekspedisi

Kapasitas Ekspedisi ini didapatkan dari departemen ekspedisi yang mana infomasi ini digunakan untuk memperhitungan pengirman barang yang harus dikirim sesuai dengan customer order yang diterima dengan memperhitungkan leadtime pengiriman dan permintaan pengiriman barang diluar leadtime yang sudah ditentukan secara internal. Dengan adanya ini maka departemen PPIC dapat menentukan pengiriman barang yang harus dikirim karena menyangkut dengan customer order yang sudah diterima oleh departemen PPIC.

  1. Lead time Pengiriman

Lead time Pengiriman ini didapatkan dari keputusan yang telah digodok oleh Plan Manager dengan departemen terkait yang berhubungan dengan customer order. Dengan adanya leadtime pengiriman ini maka dapat memastikan kepada kustomer kapan barang yang dipesan dapat sampai ditempat para kustomer, selain itu juga departemen PPIC dapat memperhitungkan kapan seharusnya pesanan kustomer tersebut harus diproduksi.

  1. 13.    Safty Stock Raw Material dan Finish Goods

Safety stock Raw Material dan Finish Goods ini sangatlah diperlukan bagi sebuah perusahan karena dengan adanya ini maka kebutuhan akan raw material untuk kebutuhan produksi akan selalu tejaga dan tidak akan mengalami kekurangan disaat produksi akan berjalan dan kebutuhan kustomer akan hasil yang baik pun akan terjaga dengan aman pada saat kustomer mengeluarkan permintaan akan hasil yang baik maka akan selalu tersedia.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.  Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari uraian makalah adalah:

  1. PPIC (Production Planning and Iventory Control) adalah kegiatan merencanakan produksi dan mengontrol kebutuhan bahan baku agar proses produksi (manufaktur) dapat berjalan dengan baik (efektif dan efisien).
  2. Kedudukan PPIC dalam suatu perusahaan sangat penting dikarenakan dengan adanya departemen PPIC perusahaan manufaktur akan dapat melakukan efektifitas dan efisiensi dalam operasional perusahaan maupun dalam ketersediaan bahan baku yang memadahi.
  3. Pekerjaan PPIC dapat berjalan lebih efektif dan efisien apabila kita dapat mengetahui kapasitas produksi, mengetahui forecast penjualan, mengetahui customer order, mengetahui formula produk, mengetahui proses produksi, mengetahui kualitas produk, mengetahui kapasitas gudang, mengetahui lead time pembelian, mengetahui quantity minimum order, mengetahui bahan baku alternatif, mengetahui kapasitas ekspedisi, mengetahui lead time pengiriman, mengetahui safety stock raw material dan finish good.

 

 

3.2.  Saran

  1. Karena cakupan PPIC yang sangat luas, maka penelitian lebih lanjut sangat disarankan agar dapat digali lebih dalam dan dapat lebih mengembangkan fungsi dari PPIC.
  2. Fungsi dan konsep dasar PPIC yang terdapat pada makalah adalah merupakan contoh bentuk dasarnya saja. Implementasi pada bentuk perusahaan (manufaktur) yang sesungguhnya masih membutuhkan banyak penyesuaian tergantung dari jenis perusahaan dan faktor permasalahan yang muncul.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.terindikasi.com. cara membuat makalah yang baik dan benar.html. Diunduh:  29/11/2012 jam 17.59 WIB.

http://www.vhuba.blogsspot.com. 201202 pengertian ppic.html. Diunduh: 30/11/ 2012 jam 16.11 WIB.

http://www.bonymualitan.blogspot.com. ppic html. Diunduh: 30/11/2012 jam 16.25 WIB.

http://www.dedylondong.blogspot.com. 201204 memahami fungsi ppic productions html. Diunduh: 01/12/2012 jam 17.36 WIB.

under: Uncategorized

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING (MRP)

Posted by: | Desember 25, 2012 | No Comment |

MAKALAH

MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP)

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama                             :   Juli Rianto

NIM                               :   S12114015

Program Studi              :   S1 Teknik Industri

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan banyak kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul MATERIAL REQUIREMENTS PLANNING (MRP)

Makalah ini berisi teknik perencanaan kebutuhan material yang digunakan untuk merencanakan dan mengendalikan item barang (komponen) yang tergantung pada item di tingkat yang lebih tinggi yang memiliki fungsi kontrol tingkat persediaan, penugasan komponen berdasar urutan prioritas, dan penentuan kebutuhan kapasitas (capacity requirement). Hal ini sejalan dengan pengertian MRP (Material Requirements Planning)

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang material requirements planning.

 

Karanganyar, 02 Desember 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Prakata ………………………………………………………………………..     i

Daftar Isi ………………………………………………………………………    ii

BAB I   Pendahuluan

1.1.    Latar Belakang …………………………………..……………    1

1.2.    Tujuan ……………………………………………..………….    1

1.3.    Manfaat ……………………………………………..…………    2

BAB II  Isi

2.1.    Pengertian MRP ……………………………………………….    3

2.2.    Sejarah MRP …………………………………………..………    3

2.3.    Ruang Lingkup MRP ………………………………………….    4

2.4.    Elemen MRP ………………………………………………….    5

2.5.    Proses MRP ……………………………………………………    6

2.6.    Arus Informasi Sistem MRP …………………………………..   6

2.7.    Faktor Kesulitan dalam MRP …………………………………   7

2.8.    Kemampuan Sistem MRP …………………………………….    8

 

BAB III                                                                                                                  Penutup

3.1.    Simpulan ………………………………………………..…….    10

3.2.    Saran ……………………………………………………..……   10

Daftar Pustaka ………………………………………………………….……..    12

 

BAB I

1.1.  LATAR BELAKANG

Teknik Perencanaan Kebutuhan Material (Material Requirement Planning) digunakan untuk merencanaan dan mengendalikan item barang (komponen) yang tergantung (dependent) pada item ditingkat (level) yang lebih tinggi. Kebutuhan pada item yang bersifat tergantung merupakan hasil dari kebutuhan yang disebabkan oleh penggunaan item tersebut dalam memproduksi item yang lain, seperti dalam kasus dimana bahan baku dan komponen assembling yang digunakan untuk memproduksi barang jadi.

MRP lebih dari sekedar metode proyeksi kebutuhan-kebutuhan akan komponen individual dari suatu produk. Sistem MRP mempunyai tiga fungsi utama yaitu kontrol tingkat persediaan, penugasan komponen berdasar urutan prioritas, dan penentuan kebutuhan kapasitas (capacity requirement) pada tingkat yang lebih detail daripada proses perencanaan pada rough cut capacity requirements.

 

1.2.  TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah yang diberikan.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang teknik perencanaan kebutuhan material yang baik.
  3. Memupuk jiwa wirausaha kepada pembaca.
  4. Memberi referensi kepada pembaca tentang maksud, tujuan, dan fungsi dari teknik perencanaan kebutuhan material.

1.3.  MANFAAT

Dengan membaca dan memahami isi makalah, diharapkan dapat memperoleh manfaat yaitu:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan pembaca dalam hal teknik merencanakan kebutuhan material suatu proses produksi (manufaktur).
  2. Bertambahnya wawasan tentang tata kelola perusahaan yang baik, khususnya dalam hal perencanaan kebutuhan material suatu proses produksi (manufaktur)
  3. Semakin tingginya minat untuk mampraktekkan ilmu yang didapat dengan berwira usaha.
  4. Semakin menurunnya jumlah pengangguran usia kerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 

2.1. Pengertian MRP (Material Requirements Planning)

Perencanaan kebutuhan material (MRP) dapat didefinisikan sebagai suatu teknik atau prosedur yang sistematis untuk menentukan kuantitas serta waktu dalam proses perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung pada item–item tingkat (level) yang lebih tinggi (dependent demand). Ada 4 kemampuan yang menjadi ciri utama dari sistem MRP yaitu:

1.    Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.

2.    Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item.

3.    Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan.

4.    Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan.

 

2.2. Sejarah MRP

Sebelum MRP ada dan sebelum komputer digunakan industri, metode reorder point/reorder quantity jenis (ROP / ROQ) seperti EOQ (Economic Order Quantity) telah digunakan dalam manufaktur dan manajemen persediaan. Pada tahun 1964, Joseph Orlicky sebagai respon terhadap program manufaktur Toyota, mengembangkan material perencanaan kebutuhan (MRP). Perusahaan pertama yang menggunakan MRP adalah Black & Decker pada tahun 1964, dengan Dick Alban sebagai pemimpin proyek. Oliver Wight  ikut berjasa mengembangkan MRP ke perencanaan sumber daya manufaktur (MRP II). Pada tahun 1975 MRP dilaksanakan di 150 perusahaan. Jumlah ini telah tumbuh secara pesat menjadi sekitar 8.000 pada tahun 1981.

2.3. Ruang Lingkup MRP

Fungsi sistem MRP meliputi pengendalian persediaan, tagihan pengolahan material dan penjadwalan dasar. MRP membantu organisasi untuk mempertahankan tingkat persediaan rendah (optimal). Hal ini digunakan untuk merencanakan manufaktur, pembelian dan memberikan kegiatan.

Suatu perusahaan yang memproduksi barang, apapun produk mereka, akan menghadapi masalah praktis yang sama sehari-hari bahwa pelanggan menginginkan produk akan tersedia dalam waktu yang lebih singkat dari yang dibutuhkan untuk membuat mereka ini berarti bahwa beberapa tingkat perencanaan diperlukan.

Perusahaan perlu untuk mengontrol jenis dan jumlah bahan yang mereka beli, merencanakan produk mana yang akan diproduksi dan jumlah barang yang harus diproduksi serta memastikan bahwa mereka mampu memenuhi permintaan pelanggan saat ini dan masa depan, semua dengan biaya serendah mungkin. Membuat keputusan yang buruk dalam bidang ini akan membuat perusahaan kehilangan uang seperti pada beberapa contoh masalah sebagai berikut:

  1. Jika sebuah perusahaan membeli barang dalam jumlah cukup dari item yang digunakan dalam suatu proses produksi (manufaktur) tetapi terdapat beberapa barang yang rusak, perusahaan mungkin tidak dapat memenuhi kewajiban kontrak untuk memasok produk tepat waktu.
  2. Jika sebuah perusahaan membeli barang dalam jumlah banyak, sehingga melebihi item barang yang dibutuhkan dalam suatu proses produksi (manufaktur), uang tunai yang dipakai untuk  membeli barang tersebut mungkin dapat dipakai untuk keperluan lain dan barang yang dipakai sebagai stok bahkan mungkin tidak pernah digunakan sama sekali.
  3. Penentuan waktu awal produksi pesanan yang salah dapat menyebabkan batas waktu maksimal yang diharapkan pelanggan terlewatkan yang mengakibatkan kekecewaan pada pelanggan.

Dengan adanya MRP diharapkan permasalahan-permasalahan klasik seperti pada contoh tersebut dapat diatasi. Selain berbagai permasalahan tersebut MRP juga menyediakan jawaban untuk beberapa pertanyaan mendasar yaitu:

  1. Apa saja barang yang dibutuhkan?
  2. Berapa banyak barang yang dibutuhkan?
  3. Kapan barang tersebut dibutuhkan?

MRP dapat diterapkan baik untuk item yang dibeli dari pemasok luar dan sub rakitan, diproduksi secara internal, yang merupakan komponen dari barang-barang yang lebih kompleks.

2.4. Elemen MRP

Tujuan MRP adalah menentukan kebutuhan dan jadwal untuk pembuatan komponen-komponen sub asembling atau pembelian material untuk memenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh MPS. Jadi MRP menggunakan MPS untuk memproyeksi kebutuhan akan jenis-jenis komponen (component parts).

Elemen-elemen MRP meliputi:

1.    Penjadwalan Induk (Master scheduling)

Bertujuan untuk menentukan output fungsi operasi.

2.    Bagan Bahan (Bill of Material)

Bahan-bahan apa saja dan berapa komposisi untuk suatu produk.

3.    Catatan Persediaan (Inventory Record)

Catatan dari akumulasi transaksi sediaan yang terjadi di perusahaan atau pabrik.

4.     Perencanaan Kapasitas (Capacity Planning)

Suatu cara membuat perencanaan kapasitas, yaitu :

4.1.    Rough Cut Capacity Planning, perencanaan kapasitas pemotongan kasar yang lebih sedikit melakukan kalkulasi.

4.2.    Shop Loading, perencanaan yang lebih akurat dari pada Rough Cut Capacity Planning.

5.              Pembelian (Purchasing)

Diperluas fungsinya tidak hanya sekedar membeli, tetapi termasuk juga membangun kepercayaan pemasok.

6.              Pengendalian Pengelola Bengkel (Shop-floor Control)

Bertugas untuk mengendalikan aliran bahan dengan memperhatikan lead time yang ada. Jangan sampai terjadi penumpukan akibat tidak lancarnya aliran bahan.

 

2.5. Proses MRP

Sistem MRP memerlukan syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi. Bila syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi tersebut telah dipenuhi, maka kita bisa mengolah MRP dengan empat langkah dasar sebagai berikut :

  1. Netting (penghitungan kebutuhan bersih). Kebutuhan bersih (NR) dihitung sebagai nilai dari kebutuhan kotor (GR) minus jadwal penerimaan (SR) minus persediaan ditangan (OH kebutuhan besih dianggap nol bila NR lebih kecil dari atau sama dengan nol.
  2. Lotting (penentuan ukuran lot). Langkah ini bertujuan menentukan besarnya pesanan individu yang optimal berdasarkan hasil dari perhitungan kebutuhan bersih. Metode yang umum dipakai dalam prakteknya adalah Lot-for Lot (L-4-L).

 

2.6.  Arus Informasi Sistem MRP

  1. 1.              Master Production Schedule (MPS)

MPS merupakan ringkasan skedul produksi produk jadi untuk periode mendatang yang dirancang berdasarkan pesanan pelanggan atau ramalan permintaan. System MRP mengasumsikan bahwa pesanan yang dicatat dalam MPS adalah pasti, kendatipun hanya merupakan ramalan.

  1. 2.              Bill Of Material (BOM)

BOM merupakan rangkaian struktur semua  komponen yang digunakan untuk memproduksi barang jadi sesuai dengan MPS. Secara spesifik struktur BOM tidak saja berisi komposisi komponen, tetapi juga memuat langkah penyeledaian produk jadi. Tanpa adanya struktur BOM sangat mustahil untuk dapat melaksanakan system MRP.

  1. 3.              Infentory Master File (IMF)

Terdiri dari semua catatan tentang persediaan produk jadi, komponen dan sub-komponen lainnya, baik yang sedang dipesan maupun persediaan pengaman.

 

2.7.  Faktor Kesulitan Dalam MRP

Terdapat lima faktor yang mempengaruhi tingkat kesulitan dalam proses MRP yaitu:

1     Struktur Produk

Semakin rumit struktur produk, akan membuat perhitungan MRP semakin rumit pula. Struktur produk yang komleks terutama kearah vertikal, akan membuat proses penentuan kebutuhan bersih, penentuan jumlah pesanan optimal, penentuan saat yang tepat melakukan pasanan, dan penentuan kebutuhan kotor menjadi berulang-ulang.

2     Ukuran Lot

Jika dilihat dari cara pendekatan masalah, terdapat dua aliran dalam penentuan ukuran lot yaitu, pendekatan periode dan level by level

3               Tenggang Waktu

Perbedaan dalam tenggang waktu akan menambah kerumitan dalam proses MRP. Oleh karena itu kita dihadapkan pada masalah penentuan saat paling awal dan saat paling lambat suatu komponen harus selesai atau disebut dengan lintasan kritis.

4               Perubahan Kebutuhan

MRP dirancang untuk menjadi suatu sistem yang peka terhadap perubahan baik perubahan dari luar maupun perubahan dari dalam (kapasitas). Kepekaan ini bukanlah tidak menimbulkan masalah, perubahan kebutuhan produk akhir tidak hanya mempengaruhi rencana pemesanan, tetapi juga mempengaruhi jumlah kebutuhan yang diinginkan.

5               Komponen Yang Bersifat Umum (Communality)

Adanya komponen yang bersifat umum (dibutuhkan lebih dari satu induk item) akan menimbulkan kesulitan apabila komponen umum tersebut berada pada level yang berbeda. Diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, baik dalam jumlah maupun waktu pelaksanaan pemesanan.

 

2.8.  Kemampuan Sistem RMP

Ada empat kemampuan yang menjadi ciri utama dari sistem MRP yaitu:

  1. Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.

Maksudnya adalah menentukan secara tepat “kapan” suatu pekerjaan harus diselesaikan atau “kapan” material harus tersedia untuk memenuhi permintaan atas produk akhir yang sudah direncanakan pada jadwal induk produksi.

  1. Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item.

Dengan diketahuinya kebutuhan akan produk jadi, MRP dapat menentukan secara tepat sistem penjadwalan (berdasarkan prioritas) untuk memenuhi semua kebutuhan minimal setiap item komponen.

  1. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan.

Maksudnya adalah memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan terhadap pesanan harus dilakukan, baik pemesanan yang diperoleh dari luar atau dibuat sendiri.

  1. Mentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan.

Apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan pada waktu yang diinginkan, maka MRP dapat memberikan indikasi untuk melakukan rencana penjadwalan ulang dengan menentukan prioritas pesanan yang realistis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.  Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari uraian makalah adalah:

  1. MRP (Material Requirements Planning) adalah suatu teknik atau prosedur yang sistematis untuk menentukan kuantitas serta waktu dalam proses perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung pada item–item tingkat (level) yang lebih tinggi (dependent demand).
  2. Fungsi utama sistem MRP meliputi pengendalian persediaan, tagihan pengolahan material dan penjadwalan dasar.
  3. Elemen-elemen MRP meliputi:

3.1. Penjadwalan Induk (Master scheduling)

3.2. Bagan Bahan (Bill of Material)

3.3. Catatan Persediaan (Inventory Record)

3.4. Perencanaan Kapasitas (Capacity Planning)

3.5. Pembelian (Purchasing)

3.6. Pengendalian Pengelola Bengkel (Shop-floor Control)

 

3.2.  Saran

  1. Karena cakupan peran maupun fungsi MRP yang sangat luas, maka penelitian lebih lanjut sangat disarankan agar dapat digali lebih dalam dan dapat mengembangkan fungsi-fungsi yang sudah ada.
  2. Pada implementasi MRP yang sesungguhnya tentu akan ditemukan beberapa permasalahan yang mungkin timbul. Oleh karena itu penyesuaian dari penerapan teori yang terdapat pada makalah ini mutlak diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://go-phelz.blogspot.com /2011/01/perencanaan kebutuhan bahan mrp . html.  Diunduh:  30/11/2012 jam 16.31 WIB.

http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?option=com. Diunduh: 30/11/2012 jam 16.52 WIB.

http://en.wikipedia.org/wiki/Material_requirements_planning Diunduh: 30/11/2012 jam 17.19 WIB.

 

under: Uncategorized

KARAKTER ORANG BERIMAN

Posted by: | Desember 25, 2012 | No Comment |

MAKALAH

KARAKTER ORANG BERIMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama / NIM       :   Juli Rianto / S12114015

Program Studi   :   S1 Teknik Industri

 

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

 

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul KARAKTER ORANG BERIMAN.

Makalah ini berisi bagaimana kita memahami karakteristik orang beriman menurut Al Qur’an. Sebagai seorang muslim, kita wajib tahu batasan-batasan bilamana seseorang disebut sebagai beriman dan tidak menurut petunjuk Al Qur’an.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang karakteristik orang beriman sesuai dengan Al Qur’an.

 

Karanganyar, 04 Desember 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Prakata ………………………………………………………………………..….    i

Daftar Isi ………………………………………………………………………….    ii

BAB I   Pendahuluan

1.1.    Latar Belakang ………………………………………..………….    1

1.2.    Tujuan ………………………………………………………….….   1

1.3.    Manfaat ………………………………………………..………….    2

BAB II  Pembahasan

2.1.    Pengertian iman ………………………………………….………….   3

2.2.    Hubungan iman dengan Islam …….….……………………………..….    5

2.3.    Rukun iman ……………………………………..………….….….    6

2.4.    Karakter Orang Beriman …………………………………………    10

BAB III                                                                                                                      Penutup

3.1.    Simpulan ……………………………………………..……….….    18

3.2.    Saran ……………………………………………….…………….    18

Daftar Pustaka ………………………………………………………………..….    19

BAB I

  1. 1.        LATAR BELAKANG

Kekerasan dan tawuran antar kelompok masyarakat hampir menjadi pemandangan rutin di layar televisi. Beberapa kasus tawuran bahkan dimotori oleh anak muda yang masih dalam usia produktif. Pelajar dan mahasiswa yang merupakan masyarakat terdidik juga ikut meramaikan tawuran.

Perilaku kekerasan dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa, akhir-akhir ini menjadi semakin besar dan sulit untuk dikendalikan. Beberapa fakultas dalam satu kampuspun saling bermusuhan. Beberapa kasus tawuran bahkan mengarah ke tindak kriminalitas dan penganiayaan berat yang berujung pada kasus kematian.

Perilaku pelajar dan mahasiswa yang sudah sangat memprihatinkan ini tentu ada penyebabnya. Salah satu penyebab tindak kekerasan dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa karena kurangnya rasa keimanan kita terhadap Allah SWT. Sebagai seorang muslim, kita wajib tahu bilamana seseorang disebut sudah beriman atau belum. Keimanan seseorang akan muncul lewat karakteristik yang ditunjukkan orang tersebut dalam pergaulan sepanjang hari.

 

  1. 2.        TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah yang diberikan.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang karakteristik dan sifat orang beriman.
  3. Memberi dorongan kepada pembaca untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan keimanan guna meraih ridhoNya.
  4. 3.        MANFAAT

Dengan membaca dan memahami isi makalah, diharapkan dapat memperoleh manfaat yaitu:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan pembaca tentang karakter/sifat orang beriman sesuai dengan Al Qur’an.
  2. Bertambahnya wawasan ilmu keagamaan pembaca.
  3. Semakin tingginya minat untuk menerapkan sunah Allah dan rasulNya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Semakin meningkat keimanan pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.      Pengertian Iman

Secara bahasa, iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatannya. Adapun iman menurut pengertian istilah yang sesungguhnya adalah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur keraguan dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.

Kata iman di dalam Al Qur’an digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Ar Raghib al Ashfahani, seorang ahli kamus Al Qur’an mengatakan bahwa kata iman didalam Al Qur’an terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas di bibir saja padahal hati dan perbuatanya tidak beriman, terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya terbatas pada perbuatan saja, sedangkan hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan sehari-hari.

Iman dalam arti semata-mata ucapan dengan lidah tanpa dibarengi dengan hati dan perbuatan dapat dilihat dari arti QS. Al Baqarah, ayat 8-9, yang artinya:

 

“Dan diantara manusia itu ada orang yang mengatakan:” Kami beriman kepada Allah dan hari akhirat, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi yang sebenarnya mereka menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar.

Iman dalam arti hanya perbuatannya saja yang beriman, tetapi ucapan dan hatinya tidak beriman dapat dilihat dari QS. An-Nisa, ayat 142 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang munafik (beriman palsu) itu hendak menipu mereka. Ketika mereka berdiri mengerjakan shalat, mereka berdiri dengam malas, mereka ria (mengambil muka) kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali “.

Iman dalam arti yang ketiga adalah tashdiqun bi al-qalb wa amalun bi al-jawatih, artinya kondisi dimana pengakuan dengan lisan itu diiringi dengan pembenaran hati, dan mengerjakan apa yang diimaninya dengan perbuatan anggota badan. Contoh iman model ini dapat dilihat dalam QS. Al-Hadid, ayat19 yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang-orang yang Shiddiqien”.

Berdasarkan informasi ayat tersebut dapat diketahui bahwa di dalam   Al Qur’an kata iman digunakan untuk tiga arti yaitu iman yang hanya sebatas pada ucapan, iman sebatas pada perbuatan, dan iman yang mencakup ucapan, perbuatan dan keyakinan dalam hati.

2.2. Hubungan Iman dengan Islam

Kata Islam sebagaimana diketahui berasal dari kata aslama yuslimu Islaman yang artinya berserah diri, patuh dan tunduk kepada Allah SWT. Orang yang melakukan demikian selanjutnya disebut muslim.

Menurut Al Qur’an, iman bukan semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Al Qur’an dengan tegas memegang teguh pengertian seperti ini karena menurut Al Qur’an walaupun setan dan malaikat itu sama adanya, namun beriman kepada malaikat acap kali disebut sebagai bagian dari rukun iman, sedangkan terhadap setan, orang diharuskan mengkafirinya. Hal ini sesuai dengan salah satu ayat dalam Al Qur’an yang artinya:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

Jadi manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara iman dan islam. Karena diantara keduanya terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati, sedangkan islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal.

 

2.3. Rukun Iman

Secara harfiah kata rukun berarti berdampingan, tujuan, bersanding, bertempat tinggal bersama atau kekuatan. Dalam ilmu fiqih rukun sering diartikan suatu perbuatan yang mengkonfirmasi suatu kegiatan dan perbuatan tersebut termasuk dari kegiatan tersebut sesuai dengan firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqarah, ayat 177 yang artinya:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi….”

Pada ayat tersebut disebutkan rukun iman itu ada lima, yaitu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi. Pada ayat tersebut tidak disebutkan rukun iman yang keenam, yaitu beriman kepada qadha dan qadar.

2.3.1. Iman kepada Allah SWT.

Tidaklah seseorang dikatakan beriman kepada Allah SWT sampai dia mengimani 4 hal yaitu:

  1. Mengimani adanya Allah SWT.
  2. Mengimani rububiah Allah SWT, bahwa tidak ada yang menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah SWT.
  3. Mengimani uluhiah Allah SWT, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah SWT. dan mengingkari semua sesembahan selain Allah SWT.
  4. Mengimani semua nama dan sifat Allah SWT yang telah ditetapkan, menjauhi ta’thil, tahrif, takyif, dan tamtsil.

2.3.2. Iman kepada hari kemudian/hari akhir.

Dikatakan hari akhir karena adalah hari terakhir bagi dunia ini, Tidakk ada lagi hari esok. Hari terakhir adalah hari dimana Allah SWT mewafatkan seluruh makhluk yang masih hidup ketika itu kecuali yang Allah SWT kecualikan, kemudian mereka semua dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan amal mereka sesuai dengan firman Allah SWT pada surat Al Anbiya ayat 104 yang artinya: “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya, janji dari Kami, sesungguhnya Kami pasti akan melakukannya.”

Makna hari akhir secara khusus, meskipun sebenarnya beriman kepada akhir itu mencakup 3 hal, dimana siapa saja yang mengingkari salah satunya maka hakikatnya dia tak beriman kepada hari akhir. Ketiga hal itu adalah:

  1. Mengimani semua yang terjadi di alam barzah yaitu alam di antara dunia dan akhirat berupa siksa kubur oleh 2 malaikat, nikmat kubur bagi yang baik amal ibadahnya, sedangkan siksa kubur untuk yang ingkar dari perintahNya.
  2. Mengimani tanda hari kiamat, seperti munculnya imam Mahdi, keluarnya dajjal, turunnya nabi Isa AS, terbitnya matahari dari sebelah barat dan tanda lainnya.
  3. Mengimani semua yang terjadi setelah kebangkitan, dari kebangkitan itu sendiri, berdiri di padang mahsyar, hisab, mizan (penimbangan amal), sirath, neraka, qintharah (titian kedua setelah shirath), dan terakhir surga.

2.3.3. Iman kepada para malaikat

Maksudnya kita wajib membenarkan bahwa para malaikat itu ada wujudnya dimana Allah SWT menciptakan mereka dari cahaya. Para malaikat adalah makhluk dan hamba Allah SWT yang selalu patuh dan beribadah hanya kepadaNya.

2.3.4. Iman kepada kitab Allah SWT.

Maksud mengimani kitab Allah SWT bahwa seluruh kitab Allah adalah kalamNya, dan kalamullah, bukanlah makhluk karena kalam merupakan sifat Allah SWT. Keimanan terhadap kitab Allah SWT mencakup secara rinci semua kitab yang namanya disebutkan dalam Al Qur’an seperti Taurat, Injil, Zabur, suhuf Ibrahim, & suhuf Musa. Secara khusus tentang Al Qur’an, kita wajib mengimani bahwa Al Qur’an merupakan penghapus hukum dan penyempurna dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.

2.3.5. Iman kepada Nabi dan Rosul Allah SWT.

Yaitu mengimani bahwa ada diantara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah SWT pilih sebagai perantara Allah SWT dengan para makluk. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tak memiliki sifat-sifat dan hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata.

Iman kepada nabi dan rosul adalah mengimani bahwa semua wahyu nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah SWT. Siapa saja yang mendustakan kenabian salah seorang di antara mereka maka sama saja dia telah mendustakan seluruh nabi lainnya.

2.3.6  Iman kepada qadha dan qadar

Hubungan antara qadha dan qadar selalu berhubungan erat. Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah SWT. Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah SWT. Jadi hubungan antara qadha dan qadar ibarat rencana dan perbuatan. Perbuatan Allah SWT berupa qadarNya selalu sesuai dengan ketentuanNya. Sebagai orang beriman, kita harus rela menerima segala ketentuan Allah SWT atas diri kita.

Takdir Allah SWT merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan, kita harus bersyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita. Ketika takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka harus kita terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah SWT maha mengetahui atas apa yang diperbuatnya. Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu untuk makhluknya.

 

2.4.           Karakter Orang Beriman

Secara tegas dalam Al Qur’an Allah SWT menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaanNya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan yang prima dibanding makhluk lainya. Allah SWT juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya masih belum selesai atau setengah jadi, sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya. Proses penyempurnaan ini sangat dimungkinkan karena pada hakekatnya manusia itu fitri, hanif dan berakal.

Sesungguhnya, fitrah yang tertanam dalam diri manusia telah menyadarkan akan kelemahannya dengan mengharapkan agar Allah SWT memberi pertolongan, bantuan, petunjuk, perlindungan, dan pengamanan.  Oleh sebab itu, Allah SWT menurunkan agama untuk mendampingi manusia supaya mereka tidak salah dalam mengembangkan fitrah (bakat bawaan)nya itu. Dalam bahasa Al-Qur’an, agama laksana cahaya yang mengusir kegelapan dan menunjukkan jalan terang. Al Qur’an juga bagaikan curahan air yang memberikan kesejukan dan kehidupan. Ada banyak sekali norma-norma yang diajarkan Allah SWT dalam agama untuk dijadikan pegangan hidup agar menjadi manusia yang mutaqin.

Ibadah adalah salah satu ajaran terpenting yang disampaikan oleh para nabi dan utusan Allah SWT. Ibadah merupakan salah satu fitur dari ajaran seluruh nabi. Karena itu, oleh kalangan umat beragama ibadah menempati posisi yang amat luhur dan tidak dianggap sebagai serangkaian ritual semata yang terpisah dari kehidupan sehari-hari dan hanya terkait dengan alam akhirat. Dari ibadahnya pula orang akan dapat menilai apakah orang tersebut termasuk kedalam golongan orang yang beriman atau sebaliknya.

Sifat atau karakteristik orang yang beriman banyak dijelaskan dalam Al Qur’an diantaranya:

  1. Surat Al Mu’minun ayat 1-11:

 

 

Surat Al Mu’minun ayat 1-11 menjelaskan tentang sifat-sifat yang dimiliki orang beriman serta balasan yang akan diperolehnya. Yang dimaksud dengan beriman adalah beriman kepada rukun iman yang enam. Ayat ini, menjelaskan bahwa sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Karena walaupun mereka menurut perhitungan banyak mengerjakan amal kebajikan tetapi semua amalnya akan sia-sia saja di akhirat nanti, karena tidak berlandaskan iman kepada Allah SWT.

Adapun sifat orang yang beriman dalam surat Al Mu’minun tersebut adalah:

1.1.         Orang yang khusyuk dalam shalat.

“(Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya” (QS. Al Mu’minun: 2).

Seorang muslim itu harus tahu apa sebenarnya esensi yang terkandung dalam setiap gerakan shalat. Sering kita merasa lega setelah kita usai melaksanakan aktivitas shalat. Tapi apakah kita pernah berpikir, sudah benarkah shalat kita. Mungkin banyak dari kita yang ketika shalat masih memikirkan hal-hal lain yang bersifat keduniawian.

1.2.         Orang yang jauh dari kesia-siaan (tidak berguna).

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (QS. Al Mu’minun: 3)

Orang yang hidupnya selalu dipenuhi dengan aktivitas ukhrawi akan rindu sekali dengan akhirat. Dia senantiasa melakukan hal yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun orang lain.  Jangan sampai rutinitas yang membawa keberkahan bagi kita atau justru mengandung kemudharatan bagi hidup kita seperti disampaikan dalam surat Al Kahfi ayat 104 yang artinya: “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”

Banyak dari kita mengira bahwa kegiatan yang sudah kita lakukan setiap harinya adalah baik, tapi belum tentu baik untuk Allah SWT. Oleh karena itu, sebelum kita melakukan segala aktivitas, renungkanlah hal tersebut. Agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi.

1.3.         Orang yang melaksanakan zakat.

“Dan orang-orang yang menunaikan zakat” (QS. Al Mu’minun:4)

Orang yang mampu dalam segi ekonomi kehidupannya, wajib membantu dan menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka yang kurang mampu. Salah satunya adalah zakat. Zakat wajib hukumnya bagi orang-orang yang dilebihkan hartanya oleh Allah SWT. Firman Allah SWT dalam surat Fushshilat ayat 6-7 yang artinya: “…. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat ”

Zakat itu kedudukannya adalah kedua setelah shalat. Banyak dari ayat Al Qur’an yang menyebutkan zakat setelah kata shalat. Bisa diartikan bahwa shalat dan zakat itu saling mengisi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan.

1.4.         Orang yang menjaga kemaluannya.

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya” (QS. Al Mu’minun:5)

Banyak wanita yang beralasan, karena faktor ekonomi mereka akhirnya menjadi wanita penghibur. Dan tak sedikit pula para pria yang karena alasan bosan dengan sang istri akhirnya menemukan wanita lain. Sungguh sangat disayangkan ketika mereka beralasan seperti itu. Seharusnya mereka sadar bahwa segala sesuatunya itu datang dari Allah SWT. Maka seharusnya mereka takut pada Allah SWT ketika melakukan hal yang tidak sesuai dengan perintahNya.

1.5.         Orang yang memenuhi janjinya.

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al Mu’minun: 8)

Janganlah pernah berjanji kalau dirasa kita tidak bisa memenuhi janji itu. Ucapkanlah Insya Allah dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu itu datangnya hanya dari Allah SWT. Kalau Allah SWT mengizinkan, maka kita akan bisa memenuhi janji itu. Tapi jika Allah SWT belum berkehendak, maka kita tidak bisa berbuat apapun.

1.6.         Orang yang memelihara shalatnya.

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” (QS. Al Mu’minun: 9)

Shalat memang rukun Islam yang kedua, tapi kita juga harus tahu dasarnya apa yang mengaharuskan mengerjakan shalat. Shalat dilakukan bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban saja.  Harus disadari dalam hati bahwa shalat sebagai salah satu cara kita berkomunikasi dengan Allah SWT. Shalat adalah tiang agama. Tanpa shalat, seseorang belum bisa dikatakan mukmin. Shalat adalah amalan yang dihisab pertama kali di akhirat nanti. Shalat juga yang membedakan antara orang mukmin dengan orang bukan muslim. Pada ayat selanjutnya, Allah SWT juga menjelaskan “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya “(QS. Al Mu’minun: 10-11)

Balasan untuk orang beriman yang memiliki sifat-sifat di atas adalah surga firdaus. Umar, salah satu sahabat nabi Muhammad SAW meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi: “Telah diturunkan kepadaku sepuluh ayat, barang siapa yang menegakkannya akan masuk surga, lalu beliau membaca sepuluh ayat ini dari awal surat Al Mu’minun.”

  1. Surat Al Anfal ayat 2-4:

 

 

 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”(QS.Al Anfal 2-4)

Dari ayat tersebut telah jelas bahwa beberapa tanda orang yang beriman kepada Allah SWT adalah:

  1. Bila disebut nama Allah gemetarlah hatinya.
  2. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya.
  3. Mereka selalu bertawakal kepada Allah SWT.
  4. Mendirikan shalat.
  5. Menafkahkan (berinfaq, shadaqoh)

Itulah tanda-tanda orang yang beriman yang disebutkan Allah SWT dalam surat Al Anfal ayat 2-4.

 

Manfaat iman bagi kehidupan manusia adalah:

  1. Iman dapat menimbulkan ketenangan jiwa.
  2. Iman akan menimbulkan rasa kasih sayang kepada sesama.
  3. Iman yang disertai dengan amal shaleh dapat menjadi kunci dibukakannya kehidupan yang lebih baik, adil dan makmur.
  4. Orang yang beriman akan diberikan kekuasaan dengan mengangkatnya sebagai kalifah di muka bumi.
  5. Orang yang beriman akan mendapat pertolongan dari Allah.
  6. Iman akan membawa terbukanya keberkahan di langit dan bumi.

Iman sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa tingkatan. Tingkatan iman antara satu orang dengan yang lainnya tentu berbeda. Untuk dapat meningkatkan iman, pembelajaran sepanjang hayat perlu dilakukan karena iman tidak mengenal usia. Hal-hal yang dapat meningkatkan iman diantaranya:

  1. Meningkatkan ilmu

Dengan meningkatkan ilmu tentang Allah SWT seperti makna dari nama-namaNya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang terhadap Allah SWT dan kekuasaanNya, maka semakin bertambah tinggi iman dan pengagungan serta takutnya kepada Allah SWT.

  1. Merenungkan ciptaan Allah

Dengan merenungkan ciptaan Allah SWT, keindahannya, keanekaragamanNya, dan kesempurnaanNya maka kita akan sampai pada kesimpulan siapa yang merencanakan, menciptakan dan mengatur semua ini.

3.       Senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan meninggalkan maksiat hanya karena Allah SWT.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.  Simpulan

Secara bahasa, iman berarti membenarkan (tashdiq), sementara menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatannya. Sedangkan menurut istilah pengertian iman adalah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur kerag-raguan, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.

Seseorang dikatakan sudah beriman apabila memenuhi beberapa kriteria seperti yang sudah disebutkan Allah SWT dalam surat Al Mu’minun ayat 1-11 dan surat Al Anfal ayat 2-4. Untuk mencapai tingkatan keimanan yang baik ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu meningkatkan ilmu, merenungkan ciptaan Allah SWT, dan senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan meninggalkan perbuatan maksiat. Dengan terpatrinya keimanan di dalam jiwa, diharapkan akan membuka keberkahan dilangit dan dibumi.

3.2.  Saran

Dari hasil pembahasan makalah diatas penulis menyarankan:

3.2.1.      Selalu mempelajari Al Qur’an dengan kafah agar tidak salah menafsirkan ayat yang ada di dalamnya.

3.2.2.      Setelah mempelajari dengan kafah, sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan, maka amalkan ilmu yang diperoleh dengan sungguh-sungguh dan hanya dengan mengharap keridhoan dari Allah SWT.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/keimanan_dalam_agama_islam. diunduh: 01/12/2012 15.59WIB.

http://www.wahdahbulukumba.org/2012/03/amar maruf nahi mungkar sifat orang.html. diunduh: 02/12/2012 16.25WIB.

http://alrasikh.uii.ac.id/2012/03/30/6-kriteria-orang-bertaqwa. diunduh: 03/12/2012 17.29 WIB.

http://se7en.student.umm.ac.id/hakikat-seorang-mukmin. diunduh: 04/12/2012 16.14WIB.

http://salafy-indonesia.web.id/penjelasan-rukun-iman-penjelasan-tentang-rukun-iman-123.htm. diunduh: 04/12/2012 17.27 WIB.

 

under: Uncategorized

PERMASALAHAN EKONOMI DI INDONESIA

Posted by: | Desember 25, 2012 | No Comment |

MAKALAH

PERMASALAHAN EKONOMI DI INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama / NIM       :   Juli Rianto / S12114015

Program Studi   :   S1 Teknik Industri

 

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

 

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul PERMASALAHAN EKONOMI DI INDONESIA.

Makalah ini berisi bagaimana kita memahami dan mengenal beberapa masalah ekonomi yang ada di Indonesia. Dengan mengenal dan memahami beberapa permasalahan perekonomian di Indonesia, diharapkan mahasiswa dapat belajar mencari solusi untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang berbagai permasalahan perekonomian di Indonesia dan solusinya.

 

Karanganyar, 07 Desember 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Prakata ………………………………………………………………………..….    i

Daftar Isi ………………………………………………………………………….    ii

BAB I   Pendahuluan

1.1.    Latar Belakang ………………………………………..………….    1

1.2.    Tujuan ………………………………………………………….….   2

1.3.    Manfaat ………………………………………………..………….    2

BAB II  Pembahasan

2.1.    Kebijakan dan Permasalahan Ekonomi Indonesia ………….…..….     3

2.1.1                                                                                                     Iklim Investasi ………………………………………….….                             4

2.1.2 Kebijakan Ekonomi Makro dan Keuangan ……………..…     5

3.1.3 Ketahanan Energi ……………………………………..……     6

4.1.4 Kebijakan Sumber Daya Alam, lingkungan dan Pertanian        7

2.2.    Akar Masalah Perekonomian di Indonesia ………………………..….     10

2.2.1 Problem Kepemilikan …………………………………..….     10

2.2.2 Problem Distribusi Kekayaan ………………………..…….     11

2.2.3 Sistem Uang Kertas …………………………………..……    12

2.2.4 Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)   12

2.2.5 Pelaksanaan Komitmen Masyarakat Ekonomi Asean …..…     13

2.2.6 Infrastruktur …………………………………………..……    14

2.2.7 Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian ……………….…..     14

BAB III                                                                                                                      Penutup

3.1.    Simpulan ……………………………………………..……….….    18

3.2.    Saran ……………………………………………….…………….    18

Daftar Pustaka ………………………………………………………………..….    19

BAB I

1.1.Latar Belakang

Indonesia menggunakan sistem perekonomian kerakyatan, jadi semua kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Semua hal yang berhubungan dengan kebijakan dan kelangsungan hidup masyarakat Indonesia diatur oleh kebijakan dan peraturan pemerintah.

Tanda perekonomian Indonesia mulai mengalami penurunan diawali pada tahun 1997 dimana pada masa itulah terjadi multi krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4,7 persen, sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 7,8 persen. Kondisi keamanan yang belum kondusif juga mempengaruhi iklim investasi di Indonesia, yang menambah kesulitan dinegeri ini.

Hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas kegiatan ekonomi yang berdampak pada penerimaan negara serta pertumbuhan ekonominya. Adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi diharapkan akan menjanjikan harapan bagi perbaikan kondisi ekonomi dimasa mendatang. Bagi Indonesia, dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi maka harapan meningkatnya pendapatan nasional (GNP), pendapatan persaingan kapita akan semakin meningkat, tingkat inflasi dapat ditekan, suku bunga akan berada pada tingkat wajar dan semakin bergairahnya modal bagi dalam negeri maupun luar negeri.
Namun semua itu bisa terwujud apabila kondisi keamanan dalam negeri benar-benar telah kondusif. Kebijakan pemerintah saat ini didalam pemberantasan terorisme, serta pemberantasan korupsi turut membantu bagi pemulihan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang merupakan salah satu indikator makro ekonomi menggambarkan kinerja perekonomian suatu negara akan menjadi prioritas utama bila ingin menunjukkan kepada pihak lain bahwa aktivitas ekonomi sedang berlangsung dengan baik pada negaranya.

1.2.Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang berbagai permasalahan ekonomi yang dihadapi Indonesia.
  3. Memberi gambaran tentang solusi yang mungkin dilakukan untuk dapat memperbaiki kondisi perekonomian di Indonesia.

1.3.Manfaat

Dengan membaca dan memahami isi makalah diharapkan mahasiswa dapat:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan pembaca tentang berbagai permasalah perekonomian yang sudah dan sedang terjadi di Indonesia.
  2. Bertambahnya wawasan keilmuan pembaca, khususnya dalam hal ilmu ekonomi kerakyatan.
  3. Dengan bertambahnya wawasan keilmuan pembaca diharapkan dapat ikut berperan dalam pengentasan ekonomi masyarakat sesuai dengan program pemerintah.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Kebijakan dan Permasalahan Ekonomi Indonesia.

Selama tiga tahun dari 2005, 2006, dan 2007 perekonomian Indonesia tumbuh cukup signifikan (rata-rata di atas 6%), menjadikan Indonesia saat ini secara ekonomi cukup dipertimbangkan oleh perekonomian dunia. Hal ini dapat dilihat dengan diundangnya Indonesia ke pertemuan kelompok 8-plus (G8plus) di Kyoto Jepang pada bulan Juli 2008 bersama beberapa negara yang disebut BRIICS (Brasil, Rusia, India, Indonesia dan South Africa). Pada tahun 2008 pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai US$ 2.000, bahkan pada tahun 2009, GDP Indonesia ditetapkan di atas angka 5.000 triliun Rupiah atau setara dengan US$ 555 milyar. Angka-angka ini cukup mendukung estimasi bahwa pada tahun 2015 Indonesia sudah menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia dengan GDP di atas US$ 1 triliun. Namun masih banyak hambatan yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia untuk menuju kesana, kondisi infrastruktur perekonomian (seperti jalan, jembatan, pelabuhan dan listrik), tingginya angka pengangguran (kisaran 9%), tingginya inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya harga energi dunia (sudah menyentuh 11%), belum optimalnya kedatangan FDI ke Indonesia, belum optimalnya peranan APBN sebagai stimulus ekonomi (belum ekspansif).

Beberapa permasalahan ekonomi Indonesia yang masih muncul saat ini dijadikan fokus program ekonomi 2008-2009 yang tertuang dalam Inpres Nomor 5 tahun 2008 yang memuat berbagai kebijakan ekonomi yang menjadi target pemerintah yang dapat dikelompokkan ke dalam 8 bidang yaitu:

  1. Investasi
  2. Ekonomi makro dan keuangan
  3. Ketahanan energi
  4. 4.    Sumber daya alam dan lingkungan dan pertanian
  5. 5.    Pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)
  6. 6.    Pelaksanaan komitmen masyarakat ekonomi ASEAN
  7. 7.    Infrastruktur dan
  8. 8.    Ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.

Analisis singkat atas kondisi kedelapan bidang yang menjadi paket kebijakan ekonomi tahun 2008-2009 adalah sebagaimana berikut ini:

  1. 1.    Iklim investasi.

Realisasi investasi yang telah dikeluarkan oleh BKPM berdasarkan izin usaha tetap PMDN pada periode 1 Januari s/d 31 Desember 2007 sebanyak 159 proyek dengan nilai realisasi investasi sebesar 34,88 triliun rupiah. Sedangkan realisasi investasi yang telah dikeluarkan oleh BKPM berdasarkan izin usaha tetap PMA (FDI) pada periode 1 Januari s/d 31 Desember 2007 sebanyak 983 proyek dengan nilai realisasi investasi sebesar US$ 10,34 milyar.

Dibandingkan dengan FDI global yang selama 2007 mencapai rekor sebesar US$ 1.500 milyar dan FDI yang masuk ke Amerika Serikat sebesar US$ 193 miliar, nilai FDI yang masuk ke Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,66% terhadap FDI dunia dan 5,18% terhadap FDI ke Amerika Serikat. Walau demikian, masuknya FDI ke Indonesia pada tahun 2007 ini jauh lebih baik dibandingkan dengan masa puncak pra-krisis yaitu tahun 1996-1997 yang hanya mencapai US$ 2,98 miliar (1996) dan US$ 4,67 miliar (1997). Realisasi FDI ke Indonesia akan dapat lebih meningkat kalau dua faktor kunci untuk masuknya FDI dibenahi yaitu kondisi infrastruktur, dan masalah birokrasi yang bertele-tele.

  1. 2.    Kebijakan Ekonomi Makro dan Keuangan.

Dari sisi fiskal, pemerintah menerapkan APBN yang cukup baik yaitu dengan sedikit ekspansif walau masih sangat berhati-hati. Hal ini terlihat dari defisit RAPBN tahun 2009 sebesar Rp 99,6 triliun atau 1,9 persen dari PDB (Kompas 15 Agustus 2008), walau defisit APBN masih dapat ditolerir sampai angka 3% (berdasarkan golden rule) . Pada tahun 2009 anggaran yang digunakan untuk belanja modal tercatat sebesar Rp 90,7 triliun lebih besar dari belanja barang sebesar Rp 76,4 triliun (Kompas 15 Agustus 2008). Total belanja pemerintah pada tahun 2009 meningkat menjadi sebesar Rp1.022,6 triliun yang diharapkan lebih berperan dalam menstimulus ekonomi untuk mencapai target pertumbuhan di atas 6,5%. Pemerintah pada tahun 2009 juga berencana untuk memberikan empat macam insentif fiskal yaitu

  1. Pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dalam jumlah dan waktu tertentu kepada investor yang merupakan industri pionir.
  2. Keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), khususnya untuk bidang usaha tertentu pada wilayah atau kawasan tertentu.
  3. Pembebasan atau penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas impor barang modal atau mesin serta peralatan untuk keperluan produksi yang belum dapat diproduksi di dalam negeri selama jangka waktu tertentu.
  4. Pemerintah mengubah perlakuan PPN atas sebagian barang kena pajak yang bersifat strategis dari yang semula ”dibebaskan” menjadi tidak dipungut atau ditanggung pemerintah.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia dengan instrument BI-rate cukup berhasil untuk mengendalikan inflasi, khususnya core inflation sejak BI rate diterapkan pada tahun 2005. Namun inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan harga energi dan terganggunya masalah distribusi terutama akibat naiknya harga gas, premium, solar, dan makanan (volatile food) membuat tahun 2008 ini tingkat inflasi cukup tinggi yaitu untuk Januari-Agustus 2008 tercatat 9,4 persen, dan inflasi Agustus 2007-Agustus 2008 mencapai 11,85 persen.

Menghadap hal ini BI melakukan antisipasi dengan menaikan BI rate pada bulan-bulan terakhir sampai September 2008, dan saat ini BI rate sudah mencapai 9,25%. Tingginya BI rate ini memang diharapkan dapat menekan angka inflasi namun disisi lain akan berpengaruh terhadap sektor riil karena kenaikan BI rate berakibat terhadap peningkatan tingkat bunga pinjaman di bank-bank komersial.

3.    Ketahanan Energi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa harga energi dunia terus berfluktuasi dan sangat sulit untuk diprediksi. Pada tahun 2008 harga minyak dunia bahkan sudah mencapai rekor tertinggi sebesar US$ 147 per barel pada 11 Juni lalu. Hal ini sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional karena kita tahu bahwa sebagai input, naiknya harga energi akan berdampak terhadap kenaikan biaya produksi dan harga jual. Disamping kenaikan biaya produksi dan harga jual akan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar internasional apalagi pada saat ini sedang terjadi penurunnya daya beli masyarakat internasional akibat inflasi yang meningkat hampir disemua negara tujuan utama ekspor Indonesia yaitu Amerika Serikat, Negara Eropa (EU), dan Asia Timur (Jepang, Korea Selatan dan China).

Dalam rangka ketahanan energi ini, pemerintah melakukan diversifikasi energi dengan misalnya memproduksi bio-fuel yang merupakan pencampuran produk fosil dengan nabati (minyak kelapa sawit). Namun muncul kendala program ini karena saat ini harga komoditi yang menggunakan bahan baku kelapa sawit mengalami kenaikan yang luar biasa yaitu Crude Palm Oil (CPO). Akibatnya, produsen kelapa sawit menjadi gamang dalam menggunakan kelapa sawit apakah untuk digunakan sebagai bio energy atau untuk menghasilkan CPO yang ditujukan untuk ekspor. Beberapa pengamat mengatakan sebaiknya Indonesia lebih mengembangkan energy geothermal (panas bumi) yang cadangannya sangat berlimpah di Indonesia (terbesar di dunia) karena biaya investasi yang mahal untuk investasi energi pada geothermal ini akan di offset oleh turunnya subsidi pemerintah untuk bahan bakar minyak karena adanya peralihan penggunaan energi dari minyak ke geothermal.

4.    Kebijakan Sumber Daya Alam, Lingkungan dan Pertanian.

Indonesia beruntung memiliki sumber daya alam yang melimpah baik bahan tambang, hutan, pertanian, hasil laut, dan cahaya matahari yang sepanjang tahun. Untuk itu, sumber daya alam yang ada harus dikelola dengan baik bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat (welfare). Sejauh ini Indonesia telah memanfaatkan banyak bahan tambang bagi pertumbuhan ekonomi seperti minyak bumi, batubara, gas, bijih besi, emas, nikel, timah dan lain sebagainya. Namun pemanfaatan sumber daya alam ini membawa dampak negatif (negative externalities) terhadap lingkungan berupa penggundulan hutan, penghancuran bukit yang tentunya berdampak negatif terhadap kondisi lingkungan. Disisi pertanian walaupun banyak kemajuan yang dicatat, Indonesia masih mengimpor beras dan produk pertanian lain seperti kedele, dan hasil perkebunan (gula). Ditargetkan pada beberapa tahun kedepan, Indonesia sudah dapat berswasembada beras dan gula.

Satu-satunya negeri muslim terbesar di dunia hanyalah Indonesia. Negeri yang dikaruniai kekayaan alam yang melimpah ini memaksa dunia untuk menjulukinya sebagai The Super Biodiversity State. Hutan Indonesia memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, pemilik 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut (www.walhi.or.id, Hutan Indonesia Menjelang Kepunahan, 14 April 2004). Menurut buku World in Figure 2003, Penerbit The Economist,USA data kekayaan Indonesia adalah: penghasil biji-bijian terbesar no 6; penghasil teh terbesar no 6; penghasil kopi no 4; penghasil cokelat no 3; penghasil minyak sawit (CPO) no 2; penghasil lada putih no 1. lada hitam no 2; penghasil puli dari buah pala no 1; penghasil karet alam no 2, karet sintetik no 4; penghasil kayu lapis no 1; penghasil ikan no 6; penghasil timah no 2; penghasil batu bara no 9; penghasil tembaga no 3; penghasil minyak bumi no 11; penghasil natural gas no 6, LNG no 1; penghasil emas no 8 dan bahan tambang lainnya. (http://km.itb.ac.id, Arah Teknologi Kita, 26/06/2006).

Kekayaan alam itu, mestinya menjadi satu kebanggaan bagi bangsa yang berpenduduk lebih dari 230 juta ini. Namun realitas ini seolah menjadi fatamorgana, ketika bangsa Indonesia hanya bisa diam saat menyaksikan PT. Freeport sejak era Soeharto mengeruk kekayaan Indonesia di Papua. Menurut catatan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sejak 1991 hingga tahun 2002, PT Freeport memproduksi total 6.6 juta ton tembaga, 706 ton emas, dan 1.3 juta ton perak. Dari sumber data yang sama, produksi emas, tembaga, dan perak Freeport selama 11 tahun setara dengan 8 milyar US$. Sementara perhitungan kasar produksi tembaga dan emas pada tahun 2004 dari lubang Grasberg setara dengan 1.5 milyar US$ (www.walhi.or.id. 06/04/04). Kita juga melihat spesialisasi bangsa Indonesia sebagai salah satu “sarang tikus” dunia, negeri ini selama bertahun-tahun menjadi negara terkorup no.1 di Asia, walaupun data terbaru menunjukkan Indonesia berhasil meraih “prestasi” yang lumayan, data Political and Economic Risk Consultancy (PERC), melansir hasil survei mereka terhadap 13 negara di Asia. Posisi Indonesia digeser oleh Filipina yang tahun ini memperoleh nilai 9,40 jauh lebih buruk dibanding tahun lalu (7,80 poin). Sementara poin Indonesia berkurang dari 8,16 poin (terburuk tahun 2006) menjadi 8,03 poin. (http://tribun-timur.com, RI Tak Lagi Negara Terkorup . 14-03-2007).

Berbagai usaha telah dilakukan oleh sejumlah elemen bangsa (termasuk pemerintah) untuk membangkitkan Indonesia dari keterpurukannya. Namun, nampaknya usaha itu seolah menjadi angin lalu yang belum atau bahkan sulit untuk mewujudkan impian seluruh masyarakat Indonesia, khususnya ummat Muslim. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi?

 

2.1. Akar Masalah Perekonomian di Indonesia

2.1.1. Problem Kepemilikan

Sistem Ekonomi Indonesia yang bercorak kapitalisme sudah mulai terasa sejak rezim Soeharto berkuasa. Pada saat itu, sejarah memang mencatat, bagaimana pertumbuhan ekonomi begitu pesat. Para analis pada saat itu mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang. Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5–10%, rupiah stabil dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang (www.wikipedia.org). Namun, pertumbuhan yang ditopang oleh utang luar negeri ini pada akhirnya mencapai bubble economic pada tahun 1998.

Semenjak corak perekonomian berubah arah menuju kapitalisme, bahkan belakangan menjadi lebih liberal, sedikit demi sedikit berbagai aset negara dijual kepada asing dengan alasan memperbaiki kinerja dan penyelamatan APBN. Hal ini sangat nampak terutama saat presiden Megawati memimpin negeri ini. Padahal, sudah jelas dalam UUD pasal 33 dijelaskan bahwa seluruh aset yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sebagai contoh, PT Freeport yang sudah mengangkangi tambang emas terbesar di dunia ini, telah bercokol di Indonesia sudah lebih dari setengah abad. Pemasukan yang diperoleh Freeport McMoran dari PT Freeport Indonesia, dan PT. Indocopper Investama (keduanya merupakan perusahaan yang beroperasi di Pegunungan Tengah Papua) mencapai 380 juta dollar (hampir 3.8 trilyun) lebih untuk tahun 2004 saja. (www.walhi.or.id) Selama 3 tahun hingga tahun 2004, total pengasihan PT. Freeport kepada Republik Indonesia hanya kurang lebih dari 10-13 % pendapatan bersih di luar pajak atau paling banyak sebesar 46 juta dollar (460 milyar rupiah). Belum lagi penguasaan blok cepu oleh Exxon Mobile, di mana Indonesia benar-benar dipermalukan dengan prosentase keuntungan untuk negeri ini sebesar 0%.

Padahal, berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Lingkaran Survey Indonesia, Masyarakat Indonesia sebagian besar tidak setuju (69.7%) munculnya perusahaan asing yang mengelola kekeyaaan alam Indonesia. Hanya 9.7% yang setuju/sangat setuju. Alasan ketidaksetujuan, sebagian besar (32.2%) karena sudah selayaknya kekayaan alam itu dikelola oleh perusahaan asal Indonesia.( www.lsi.co.id. 11/08/2006)

Bila seluruh aset ini benar-benar dikelola oleh negara, maka Insya Allah, biaya pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi sangat mungkin menjadi gratis, paling tidak murah. Hal ini tentu terjadi, karena kesalahan dalam menempatkan kepemilikan.

2.1.2. Problem Distribusi kekayaan.

Dalam sebuah artikel khusus harian Republika dilaporkan bahwa omset tahun 1993 dari 14 konglomerat Indonesia terbesar yang tergabung dalam grup Praselya Mulya, diantaranya Om Liem (Salim Group), Ciputra (Ciputra Group), Mochtar Riady (Lippo Group), Suhargo Gondokusumo (Dharmala Group), Eka Tjipta (Sinar Mas Group) mencapai 47,2 trilyun rupiah atau 83 % APBN Indonesia tahun 2008 (Purnawanjati,Siddiq. Membangun Ekonomi Alternatif Pasca Kapitalisme). Ini menandakan, bahwa lebih dari 80 % perputaran uang di Indonesia, hanya berkutat pada segelintir orang saja. Sementara sisanya, terbagi ke seluruh wilayah di Indonesia dengan penduduknya sejumlah 230 juta jiwa. Maka wajar apabila kemiskinan semakin merajalela, memperbesar jurang antara si kaya dan si miskin.

2.1.3. Sistem Uang Kertas.

Salah satu penyebab utama jatuhnya perekonomian Indonesia pada tahun 1997/1998 adalah, meningkatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah yang pada saat itu menembus angka Rp. 8.000,00 /dollar. Akibatnya, impian Indonesia untuk menjadi Negara Industri Baru (NIB) pupus sudah. Indonesia bukan lagi menjadi negara miskin tetapi super miskin di bawah India dan setara dengan Kamboja, Kenya atau Bangladesh yang mempunyai pendapatan per kapita dibawah 300 dolar (Purnawanjati, Siddiq. Membangun Ekonomi Alternatif Pasca Kapitalisme). Belum lagi dampak dari sistem uang yang fluktuatif ini yang akan menyebabkan inflasi, sehingga harga-harga melambung tinggi terutama untuk barang kebutuhan pokok, sebagaimana yang pernah melanda Indonesia pada tahun 1997/1998.

2.1.4. Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini merupakan sektor ekonomi yang cukup tangguh terutama pada saat krisis ekonomi 1998 dimana banyak pelaku ekonomi besar bertumbangan. Beberapa program yang akan diterapkan oleh pemerintah menyangkut pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ini adalah peningkatan akses UMKM pada sumber pembiayaan dengan:

  1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan dan akses UMKM pada sumber pembiayaan.
  2. Memperkuat sistem penjaminan kredit bagi UMKM.
  3. Mengoptimalkan pe-manfaatan dana non perbankan untuk pemberdayaan UMKM. Disamping itu akan dilakukan juga pengembangan kewirausahaan dan sumber daya manusia (SDM) dengan

3.1.  Meningkatkan mobilitas dan kualitas SDM.

3.2.  Mendorong tumbuhnya kewira-usahaan yang berbasis teknologi. Hal lainnya adalah peningkatan peluang pasar produk UMKM dengan

3.2.1. Mendorong berkembangnya institusi promosi dan kreasi produk UMKM.

3.2.2. Mendorong berkembangnya pasar tradisional dan tata hubungan dagang antar pelaku pasar yang berbasis kemitraan.

3.2.3. Mengembangkan sistem informasi angkutan kapal untuk UMKM.

3.2.4. Mengembangkan sinergitas pasar.

3.2.5. Reformasi regulasi dengan menyediakan insentif perpajakan untuk UMKM dan menyusun kebijakan di bidang UMKM.

2.1.5. Pelaksanaan Komitmen Masyarakat Ekonomi ASEAN

Sebagai anggota penting ASEAN, Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan program yang telah ditetapkan oleh organisasi yaitu pelaksanaan komitmen Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community – AEC). Beberapa langkah ke depan adalah:

  1. Komitmen AEC untuk Arus Barang Secara Bebas
  2. Komitmen AEC untuk Arus Jasa Secara Bebas
  3. Komitmen AEC untuk Arus Penanaman modal Secara Bebas
  4. Komitmen AEC untuk Arus Modal Secara Bebas
  5. Komitmen AEC untuk Arus Tenaga Kerja Terampil Secara Bebas
  6. Komitmen AEC untuk Perdagangan Makanan, Pertanian, dan Kehutanan
  7. Komitmen AEC untuk Menuju Kawasan Ekonomi Yang Kompetitif
  8. Sosialisasi Pelaksanaan Komitmen Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

2.1.6. Infrastruktur

Kalau pada masa orde baru, kondisi infrastruktur Indonesia mengalami titik puncak, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi infrastruktur yang ada sudah tidak lagi memadai. Belum lagi kondisi infrastruktur yang kualitasnya menurun seiring berjalannya waktu. Banyaknya jalan dan jembatan yang rusak ini tidak terlepas dari masa-masa sulit APBN kita yang sampai tahun 2004 lebih dikonsentrasikan kepada pembayaran hutang dan belanja barang dan gaji pegawai. Di tahun 2009, perlu ditingkatkannya belanja pemerintah untuk keperluan infrastruktur ini disamping menerapkan KPS (Kerjasama Pemerintah dan Swasta) untuk membangun jalan, jembatan, pelabuhan, perlistrikan, telekomunikasi dan lain-lain.

2.1.7. Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian

Masalah pengangguran di Indonesia masih menjadi masalah ekonomi utama yang sampai saat ini belum bisa diatasi. Sampai tahun 2008, tingkat pengangguran terbuka masih berada pada kisaran 9% dari jumlah angkatan kerja atau berada pada kisaran 9 juta orang. Sebagaimana kita ketahui, bahwa terjadi perubahan patern perekonomian paska krisis dari usaha yang padat karya ke usaha yang lebih padat modal. Akibatnya pertumbuhan tenaga kerja yang ada sejak tahun 1998 s/d 2004 terakumulasi dalam meningkatnya angka pengangguran. Dilain sisi, pertumbuhan tingkat tenaga kerja ini tidak diikuti dengan pertumbuhan usaha (investasi) yang dapat menyerap keberadaannya. Akibatnya terjadi peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia yang pada puncaknya di tahun 2004 mencapai tingkat 10% atau sekitar 11 juta orang. Untuk menangani masalah pengangguran ini pemerintah perlu memberikan fasilitas baik fiskal, perkreditan, maupun partnership untuk menciptakan usaha yang bersifat padat karya dalam rangka menyerap kelebihan tenaga kerja yang ada.

Menyangkut masalah ketransmigrasian ada yang berubah pada penanganannya dibandingkan dengan masa orde baru. Waktu itu, program transmigrasi berjalan dengan sangat gencar dengan hasil yang bervariasi. Di satu daerah program transmigrasi berjalan baik tapi di daerah lain mengalami kegagalan, namun secara keseluruhan program transmigrasi berjalan baik. Paska krisis, program transmigrasi kelihatan mati suri atau sudah hampir tidak lagi terdengar gaungnya. Apalagi sejak berlakunya otonomi daerah dimana kewenangan mengatur daerah diserahkan kepada pemerintah daerah, termasuk mengatur datangnya penduduk dari luar daerah. Saat ini tentunya perlu ada koordinasi antara pusat dengan daerah menyangkut masalah transmigrasi.

BAB III

PENUTUP

4.1.  Simpulan

Pada dasarnya permasalahan perekonomian di Indonesia lebih banyak diakibatkan karena kebijakan perundang-undangan yang mendasari peraturan tentang perekonomian yang kurang tepat. Hal itu dapat ditunjukkan dengan performa ekonomi kita yang cenderung stagnan. Kebijakan pemerintah yang dimaksud meliputi kebijakan dalam hal investasi, ekonomi makro dan keuangan, ketahanan energy, sumber daya alam dan lingkungan dan pertanian, pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pelaksanaan komitmen masyarakat ekonomi ASEAN, infrastruktur, ketenagakerjaan dan ketransmigrasian.

Salah satu solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan perekonomian di Indonesia hanyalah dengan melakukan penataan ulang beberapa peraturan perundangan yang mendasari sistem ekonomi dan investasi. Dengan penataan ulang sistem perekonomian dan investasi diharapkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik lagi.

4.2.  Saran

Mengingat perkembangan zaman yang sudah sangat pesat dan cakupan wilayah yang sangat luas yang mana antara satu daerah dengan daerah yang lain terdapat perbedaan kultur maupun budaya, studi lanjut untuk permasalahan perekonomian di Indonesia sangat diharapkan guna mencari solusi terbaik untuk kemajuan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/permasalahan-ekonomi-di-indonesia.  diunduh: 01/12/2012 15.59WIB.

http://www.slideshare.net/ajengfaiza/beberapa-permasalahan-dan-solusi-perekonomian-indonesia. diunduh: 02/12/2012 16.25WIB.

http://www.slideshare.net/ajengfaiza/beberapa-permasalahan-dan-solusi-perekonomian-indonesia. diunduh: 03/12/2012 17.29 WIB.

http://gedeeswastika-18.blogspot.com/2012/05/masalah-pokok-perekonomian-indonesia.html. diunduh: 04/12/2012 16.14WIB.

http://risnaangrum.wordpress.com/2011/04/05/tugas-makalah-perekonomian-indonesia. diunduh: 04/12/2012 17.27 WIB.

 

under: Uncategorized

MISI DICIPTAKANNYA MANUSIA

Posted by: | Desember 25, 2012 | No Comment |

MAKALAH

MISI DICIPTAKANNYA MANUSIA

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

Nama / NIM        :   Juli Rianto / S

Program Studi     :   S1 Teknik Industri

 

 

 

Ditujukan kepada :

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK INDUSTRI

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH KEBUMEN

Jl. Pahlawan 188 Mertokondo Kebumen 54317 Telp. 0287 5547279 Fax. 0287 385212

e-mail: [email protected] Website: www.sttm.ac.id

PRAKATA

Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan beribu kenikmatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang kami beri judul MISI DICIPTAKANNYA MANUSIA.

Makalah ini berisi bagaimana kita memahami misi penciptaan manusia sesuai dengan Al Qur’an. Surat Al Baqarah ayat 30, surat Az Zariat ayat 56 dan surat Hud ayat 61 merupakan salah satu rujukan yang akan kita kupas lebih dalam untuk dapat memahami misi penciptaan manusia di alam dunia.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah kasanah keilmuan kita tentang misi penciptaan manusia sesuai dengan Al Qur’an.

 

Karanganyar, 23 Oktober 2012

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Prakata ……………………………………………………………………………..….    i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………….    ii

BAB I    Pendahuluan …………………………………………………………………    1

1.1.    Latar Belakang ……………………………………………………….    1

1.2.    Tujuan …………………………………………………………….….    1

1.3.    Manfaat ……………………………………………………………….    2

BAB II   Pembahasan …………………………………………………………………    3

2.1.    Misi Untuk Beribadah ……………………………………………….    4

2.2.    Misi Sebagai Kalifah …….….…………………………………………….….    6

2.3.    Misi Untuk Memakmurkan Bumi …………………………….….….    9

BAB III  Penutup

3.1.    Simpulan ………………………………………………………….….    11

3.2.    Saran ………………………………………………………………….    11

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………..….    12

BAB I

  1. 1.        LATAR BELAKANG

Kekerasan dan tawuran antar kelompok masyarakat hampir menjadi pemandangan rutin di layar televisi. Beberapa kasus tawuran bahkan dimotori oleh anak muda yang masih dalam usia produktif. Pelajar dan mahasiswa yang merupakan masyarakat terdidik juga ikut meramaikan tawuran.

Perilaku kekerasan dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa, akhir-akhir ini menjadi semakin besar dan sulit untuk dikendalikan. Beberapa fakultas dalam satu kampuspun saling bermusuhan. Beberapa kasus tawuran bahkan mengarah ke tindak kriminalitas dan pengayaan berat yang berujung pada kasus kematian.

Perilaku pelajar dan mahasiswa yang sudah sangat memprihatinkan ini tentu ada penyebabnya. Salah satu penyebab tindak kekerasan dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa adalah karena tidak pahamnya pelajar dan mahasiswa terhadap Al Qur’an yang menjadi pedoman hidup setiap umat muslim. Ketika para pelajar dan mahasiswa belum tahu tentang misinya sebagai seorang pelajar dan mahasiswa, maka tentunya mereka akan jauh dari pengertian pelajar dan mahasiswa yang sesungguhnya. Lebih luas lagi manakala kita sebagai seorang manusia yang diciptakan oleh Allah SWT. tidak tahu apa misi yang akan kita lakukan di alam dunia ini.

 

  1. 2.        TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan disusunnya makalah ini yaitu:

  1. Sebagai pemenuhan atas tugas yang dibebankan.
  2. Memberi gambaran kepada pembaca tentang bagaiamana misi penciptaan manusia di dunia.
  3. Memberi gambaran kepada pembaca agar dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya guna meraih ridho-Nya.
  4. 3.        MANFAAT

Dengan membaca dan memahami isi makalah, diharapkan dapat memperoleh manfaat yaitu:

  1. Semakin terbukanya pengetahuan pembaca tentang misi penciptaan manusia sesuai dengan Al Qur-an.
  2. Bertambahnya wawasan ilmu keagamaan pembaca.
  3. Semakin tingginya minat untuk menerapkan sunah Allah dan rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Semakin meningkat keimanan pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Misi Penciptaan Manusia

Surat yang pertama turun dalam al Qur’an adalah surat Al Alaq. Sedangkan perintah yang pertama dilakukan Alah SWT kepada nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca. Hal ini mengandung pengertian bahwa kita sebagai ummat nabi Muhammad SAW harus lebih banyak membaca untuk meningkatkan ilmu. Dari ilmu yang kita peroleh kita akan dapat memperoleh kemanfaatan yang akan membantu kita dalam mengarungi kehidupan untuk menjalankan misi penciptaan manusia sesuai dengan Al Qur’an surat Al Alaq ayat 1-5

 

Ayat ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah atau menurut pendapat lain ‘alaq (sesuatu yang melekat). Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena pena niscaya tidak banyak ilmu pengetahuan yang tidak dilindungi dengan baik. Banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang, pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni, dan penemuan-penemuan mereka.

Manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak bisa lepas dari Aqidah Islam, karena “iqra` “haruslah dengan” bismi rabbika “, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan dasar aqidah Islam. Demikian pula dengan pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Ayat ini juga menjadikan bukti kekuasaan Allah yang menjadikan manusia dari benda mati yang tidak berbentuk dan berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai membaca dan menulis.

 

2.1. Misi Untuk Beribadah

Misi penciptaan manusia untuk beribadah terdapat dalam Alquran surat Az-Zariyat ayat 56.

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.” (Q.S. Az-Zariyat: 56)

Setelah menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni dan memelihara bumi sebagai tempat tinggalnya. Penciptaan manusia di muka bumi mempunyai misi yang jelas dan pasti. Keberadaan manusia di muka bumi ini memiliki misi utama, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Maka, setiap langkah dan gerak-geriknya harus searah dengan garis yang telah ditentukan. Setiap desah nafasnya harus selaras dengan kebijakan-kebijakan ilahiah, serta setiap detak jantung dan keinginan hatinya harus seirama dengan alunan-alunan kehendak-Nya. Semakin mantap langkahnya dalam merespon seruan Islam dan semakin teguh hatinya dalam mengimplementasikan apa yang telah menjadi tugas dan kewajibannya, maka ia akan mampu menangkap sinyal-sinyal yang ada di balik ibadahnya.

Dalam setiap ibadah yang telah diwajibkan oleh Islam memuat nilai filosofis seperti nilai filosofis yang ada dalam ibadah shalat, yaitu sebagai ‘aun (pertolongan) bagi manusia dalam mengarungi lautan kehidupan (al-Baqarah: 153), dan sebagai benteng kokoh untuk menghindari , menghadang, dan mengantisipasi gelombang kekejian dan kemungkaran sesuai dengan surat Al-Ankabut: 45 yang artinya  ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan “.

Adapun nilai filosofis ibadah puasa adalah untuk menuntun manusia muslim menuju gerbang ketaqwaan, dan ibadah-ibadah lain yang bertujuan untuk melahirkan manusia-manusia muslim yang berakhlak mulia sesuai dengan surat Al-Baqarah: 183 dan At-Taubah: 103. Maka, ketika manusia mampu menangkap sinyal-sinyal nilai filosofis dan kemudian mengaplikasikan serta mengekspresikannya dalam bahasa lisan maupun perbuatan, ia akan sampai kepada gerbang ketaqwaan. Gerbang yang dijadikan satu-satunya tujuan penciptaannya.

Maka, dalam bingkai misi utama ini, manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu sabiqun bil khairat, muqtashidun, dan dzalimun linafsihi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT sebagai berikut.

 

2.1.1. Sabiqun bil khairat

Hamba Allah SWT yang termasuk dalam kategori ini adalah hamba yang tidak hanya puas melakukan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan-Nya, namun ia terus berlomba dan berpacu untuk mengaplikasikan sunnah yang telah digariskan, dan menjauhi yang dimakruhkan. Akal sehatnya menerawang jauh ke depan untuk menghimpun karya-karya besar dan langkah-langkah positif. Hati sucinya menerima pilihan akal selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Inilah hamba yang selalu melihat kehidupan dengan cahaya bashirah. Hamba yang hatinya senantiasa dihiasi ketundukan, cinta, pengagungan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.

 

2.1.2. Muqtashidun

Hamba Allah yang masuk dalam kategori ini adalah manusia muslim yang puas ketika mampu mengamalkan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. Dalam benaknya tidak pernah terlintas ruh kompetitif dalam memperluas wilayah iman ke wilayah ibadah yang lebih jauh lagi, yaitu wilayah sunnah. Imannya hanya bisa menjadi benteng dari hal-hal yang diharamkan dan belum mampu membentengi hal-hal yang dimakruhkan.

 

2.1.3. Dzalimun linafsihi

Hamba yang termasuk dalam kelompok ini adalah yang masih mencampur adukkan antara hak dan batil. Selain ia mengamalkan perintah-perintah Allah SWT, ia juga masih sering berkubang dalam kubangan lumpur dosa. Jadi, dalam diri seorang hamba ada dua kekuatan yang mempengaruhinya, tergantung kekuatan mana yang lebih dominan, dan dalam kelompok ini, nampaknya kekuatan syahwat yang mendominasi kehidupannya, sehingga hatinya sakit parah.

 

 

 

2.2.Misi Sebagai Khalifah

Selain bertugas sebagai hamba yang harus selalu mengabdi, manusia hidup di dunia memiliki posisi terhadap makhluk-makhluk yang lainnya. Fungsi ini disebut dengan fungsi kekhalifahan (khilafah), sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30.

 

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “aku hendak menjadikan kalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman. “sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Khalifah secara bahasa berarti pengganti atau wakil. Maka manusia di muka bumi ini menjadi khalifah Allah, atau wakil Allah. Ibnu Jarir at-Thabari menjelaskan, bahwa Allah mengangkat manusia sebagai khalifah-Nya untuk menggantikan Allah dalam memutuskan perkara secara adil terhadap makhluk-makhluk Allah.

Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya agar mengingat firman-Nya kepada para malaikat yaitu “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” yang akan menggantikan-Nya dalam menjalankan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Para malaikat ketika itu, bertanya-tanya karena kawatir yang menjadi khalifah ini adalah orang-orang yang akan menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi, yaitu berupa kekufuran dan perbuatan maksiat. Hal ini sebagai perbandingan terhadap makhluk sebelumnya (jin) yang memang terjadi terhadap mereka apa yang dikhawatirkan tersebut. Lalu Allah SWT memberitahukan kepada mereka bahwa Dia mengetahui hikmah dan mashalahat yang ada dibalik itu semua, suatu hal yang tidak mereka ketahui.Yang dimaksud dengan peringatan ini adalah tambahan dalam mengungkapkan bukti-bukti yang menunjukkan wujud Allah Ta’ala, qudrat-Nya, ilmu-Nya serta hikmah-Nya yang mewajibkan kita untuk beriman dan beribadah kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.

Firman: (Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”); maksud al-Khalifah disini adalah pengganti para malaikat sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Adam ‘alaihissalaam. Allah Ta’ala berbicara kepada para malaikat dengan khithab seperti ini bukan dalam rangka meminta pendapat mereka akan tetapi untuk mengeluarkan apa yang ada pada diri mereka (mengetahui tanggapan mereka). Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan  padanya, yakni dengan berbuat syirik dan maksiat, mereka mengatakan hal ini berdasarkan pengetahuan yang mereka dapatkan dari Allah SWT, yaitu hanya satu sisi sebab mereka tidak mengetahui hal yang ghaib. (Dan menumpahkan darah); yakni dengan membunuh dan menyakiti orang. (Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau); yakni kami sebagai orang yang memuji-Mu. (Dan mentaqdiskan / mensucikan Engkau); kata at-Taqdis merupakan sinonim dari kata at-tathhir, yakni kami mensucikan-Mu dari hal-hal yang tidak layak untuk-Mu yang dinisbatkan oleh kaum al-Mulhidûn (Atheis) dan pendustaan yang dibuat oleh kaum al-Jâhidûn (para pengingkar). (Rabb berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui); dari Qatadah (berkaitan dengan tafsirnya), dia berkata: “Sungguh, sudah ada dalam ‘ilmu Allah bahwa akan ada dari makhluk tersebut (yang menjadi) para Nabi, Rasul, kaum yang shalih dan para penghuni surga “.

Petunjuk Ayat

Diantara petunjuk ayat diatas adalah:

  • Perlunya orang yang tidak tahu bertanya kepada orang yang lebih tahu.
  • Tidak bisa membentak orang yang bertanya dan harus menjawabnya atau memalingkan pertanyaan tersebut dengan cara yang lembut.
  • Mengetahui penciptaan pertama.
  • Kemuliaan Adam dan kelebihannya.

Khalifah sebenarnya adalah representasi Allah untuk memakmurkan bumi. Banyak yang salah mengira bahwa menjadi khalifah berarti menguasai. Nabi Adam  AS. bukanlah manusia pertama, tetapi ia adalah khalifah pertama. Sebelumnya ada manusia-manusia yang tidak bertugas sebagai khalifah. Lihatlah penggunaan kata Khalifah bukan Insan di ayat tersebut.

Untuk bertugas sebagai khalifah, bukan berarti harus selalu dibentuk sebuah sistem pemerintah berlabelkan Islam. Sebenarnya tiap individu dapat berperan sebagai khalifah Allah di muka bumi ini secara individual, karena sesungguhnya seorang manusia baru berfungsi sebagai khalifah ketika ia berkarya di bumi ini berdasarkan misi untuk berbuat yang Allah telah tentukan kepadanya di alam dunia.

Masing-masing orang punya “Misi Suci” yang berbeda, yang telah Allah tugaskan kepadanya. Berdasarkan misi suci inilah “untuk apa” seseorang diciptakan dan “menurut apa dimudahkan kepadanya”.

Dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, sudahkah dikenal para penduduk neraka dan penduduk surga?” Jawab Rasulullah: “Sudah.” Lalu ia kembali bertanya: “Kalau begitu untuk apa manusia beramal?” Rasulullah SAW menjawab: “Mereka beramal untuk apa dia diciptakan dan menurut apa yang dimudahkan kepadanya “ . (Hadits Riwayat Bukhari).

Kebanyakan manusia tidak mengetahui untuk apa dia diciptakan di dunia ini. Ketika seorang berkarya di bumi ini sesuai dengan Misi Hidupnya, maka secara langsung ia telah berkarya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki padanya. Maka secara langsung pula ia telah menjadi abdi Allah secara hakiki.

Dr. Quraisy Syihab menjelaskan tentang kekhalifahan ini, “Ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah SWT baik kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara”. Pengangkatan manusia sebagai khalifah ini terkait dengan penghargaan sifat ketuhanan kepada manusia, di antaranya adalah kehendak (iradah). Manusia yang bebas berkehendak dan bebas memilih ini diuji oleh Allah, mau berkehendak yang sesuai dengan Dzat yang mewakilkan atau tidak. Dan kelak manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas jabatannya sebagai khalifah itu di akhirat.

Pembagian manusia sebagai hamba Tuhan sekaligus khalifah-Nya

1. Golongan yang tidak tahu atau tidak sadar yang mereka itu hamba Tuhan dan khalifah-Nya.

2. Kelompok yang tahu bahwa mereka adalah hamba dan khalifah Allah di bumi tetapi rasa kehambaan dan kekhalifahannya tidak ada.

3. Kelompok yang merasa kehambaan dan kekhalifahan kepada Allah di bumi. Rasa kehambaan dan rasa kekhalifahannya kepada Allah itu kuat.

4. Golongan yang sifat kehambaannya dan memperhambakan diri kepada Allah lebih menonjol dari kekhalifahannya kepada Allah.

5. Kelompok yang sifat kekhalifahannya kepada Allah lebih menonjol dari sifat kehambaannya.

2.3.Misi Untuk Memakmurkan Bumi

Misi operasional manusia untuk memakmurkan bumi terdapat dalam Alquran surat Hud ayat 61

إِلَىوَ

مِنَ أَنْشَأَكُمْ هُوَ غَيْرُهُ إِلَهٍ مِنْ لَكُمْ مَا اللَّهَ عْبُدُوا ايَاقَوْمِ قَالَ صَالِحًا أَخَاهُمْ ثَمُودَ

(هود: 61) مُجِيبٌ قَرِيبٌ رَبِّي إِنَّ إِلَيْهِ تُوبُوا ثُمَّ فَاسْتَغْفِرُوهُ فِيهَا وَاسْتَعْمَرَكُمْ الْأَرْضِ

Artinya: Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya ).” (Q.S. Hud: 61)

Pertanyaan tentang kapankah kehidupan di bumi ini mulai ada telah dijawab dengan tegas oleh Al Qur’an. Al Qur’an menjelaskan bahwa kehidupan bermula saat alam semesta tercipta. Air adalah komponen utama setiap bentuk kehidupan. 50-90% berat makhluk hidup terdiri atas air. Dalam penciptaan makhluk, termasuk di dalamnya manusia, beberapa ayat menjelaskan besarnya peranan tanah liat, di samping peranan air.

Dalam hidup keseharian tampak bahwa segalanya hadir dalam bentuk yang saling berpasangan, siang-malam, pagi-sore, susah-senang, jantan-betina, dan seterusnya. Begitupun dengan manusia, keberpasangan padanya tidak perlu diragukan lagi, yaitu laki-laki dan perempuan. Keberpasangan ini memicu kerjasama yang akan menghasilkan kesinambungan dan keharmonisan hidup yang akan mendorong manusia menjadi khaira ummah.

Menjadi khaira ummah menjadi identitas umat Islam. Ditandai sikap istiqamah (Konsisten) dengan perangai utamanya tetap membawa, mendorong, mengajak umat kepada yang baik atau amar makruf . Kemudian melarang berbuat salah yakni nahyun ‘anil munkar dan tetap beriman dengan Allah. Amar makruf, hanya terlaksana dengan ilmu pengatahuan. Ketika manusia pertama diciptakan, diberikan beberapa perangkat ilmu, diajarkan pertama sekali pengenalan terhadap nama, sifat sesuatu dari alam yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya termasuk malaikat. Lihatlah dengan jelas dialog Allah dengan para malaikat tatkala penciptaan manusia pertama (Adam), seperti tertera dalam QS.2, Al Baqarah: 30-35).

Dengan ilmu yang dimiliki itu, maka manusia mengemban misi mulia yaitu apabila digabung menjadi sebagai makhluk yang dipilih untuk membangun, mengembangkan dan menjadikan bumi (dunia) lebih berdaya guna agar tercapai kemakmuran di muka bumi dengan keniatan karena Allah SWT semata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.  Simpulan

Manusia sebagai makhluk Allah mempnyai beberapa misi penciptaan yaitu:

3.1.1.      Misi untuk beribadah. Segala bentuk perbuatan manusia hendaknya dimaksudkan untuk memohon keridhoan Allah SWT dan mempunyai niat hanya karena Allah SWT.

3.1.2.      Misi manusia sebagai kalifah. Sebagai seorang kalifah tentunya kita harus dapat menjadi suri tauladan terhadap sesamanya dan terhadap makluk yang lain dalam berkompetisi untuk menggapai ridho-Nya.

3.1.3.      Misi manusia untuk memakmurkan bumi. Sebagai seorang kalifah manusia juga dituntut untuk dapat memakmurkan bumi. Hal ini dapat terlaksana apabila manusia mempunyai sifat sukur, sabar, memiliki belas kasih, santun, taubat, jujur dan terpercaya.

 

3.2.  Saran

Dari hasil pembahasan makalah diatas penulis menyarankan:

3.2.1.      Selalu pelajari Al Qur’an dengan kaffah agar tidak salam mentafsirkan ayat yang ada di dalamnya.

3.2.2.      Setelah mempelajari dengan kaffah, sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan, maka amalkan ilmu yang kita peroleh dengan sungguh-sungguh dan hanya dengan mengharap keridhoan dari Allah SWT.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http:www.terindikasi.com.Cara Membuat Makalah yang Baik dan Benar.html. diunduh: 01/11/2012 15.59WIB.

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=17. diunduh: 31/11/2012 17.25WIB.

http://www.suluk.blogspot.com.html. diunduh:29/10/2012 17.29 WIB.

http://www.dimensialquran.co.cc/2011/03/iman.html. diunduh: 12/10/2012 16.14WIB.

http://www.quran.ksu.edu.sa/ayat. diunduh: 02/11/2012 18.27 WIB.

under: Uncategorized

Selamat Datang …..

Posted by: | Nopember 30, 2012 | No Comment |

Blog yang saya buat saat ini masih dalam pengembangan, sehingga mohon maklum apabila masih banyak kekurangan. tugasku.edublogs.org merupakan blog yang berisi kumpulan tugas-tugas penulis selama menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Kebumen. Penulis berharap dengan diterbitkannya blog ini, siapapun yang membaca dapat mengambil pelajaran ataupun hikmah dibalik tulisan kami. Kami berharap sumbangsih teman-teman maupun siapapun yang melihat blog ini untuk dapat membantu mengembangkan blog ini, agar terlihat lebih baik lagi, mengingat keterbatasan pengetahuan penulis tentang bahasa pemrograman. Atas segala sumbangsih yang diberikan, penulis mengucapkan terimakasih yang setulusnya.

under: Uncategorized

Hello world!

Posted by: | Nopember 30, 2012 | 1 Comment |

Welcome to your brand new blog at Edublogs!

To get started, simply log in, edit or delete this post and check out all the other options available to you.

Happy blogging!

under: Uncategorized

Categories